Follow detikFinance
Selasa 20 Jun 2017, 20:18 WIB

Proyek 'Harta Karun Energi' Bisa Terangi 40.000 Rumah di Maluku

Michael Agustinus - detikFinance
Proyek Harta Karun Energi Bisa Terangi 40.000 Rumah di Maluku Foto: Michael Agustinus/detikFinance
Maluku Tengah - PT PLN (Persero) hari ini melaksanakan groundbreaking pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Tulehu yang berkapasitas 2 x 10 MW di Desa Suli dan Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Ini merupakan proyek panas bumi alias 'harta karun energi' pertama di Maluku.

Groundbreaking PLTP Tulehu dihadiri oleh Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua PLN Haryanto WS, Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati, Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Yunus Saefulhak, Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua, dan Anggota Komisi VII DPR Mercy Barends.

PLTP Tulehu diharapkan dapat beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada 2019. Dibangun di atas lahan seluas 1.920 Hektar, pembangkit panas bumi ini akan memperkuat sistem kelistrikan di Pulau Ambon yang sampai saat ini masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 61,9 MW. Sementara beban puncak di Ambon sebesar 54 MW.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak, mengungkapkan bahwa listrik dari PLTP Tulehu sebesar 20 Megawatt (MW) alias 20 juta Watt (W) itu cukup untuk sekitar 40.000 pelanggan listrik rumah tangga 450 VA.

"Ada sekitar 40.000 keluarga yang bisa terlistriki dari PLTP Tulehu kalau 1 rumah 450 VA. Dan ini listriknya berkelanjutan," kata Yunus saat groundbreaking PLTP Tulehu, Rabu (20/6/2017).

Ia menambahkan, panas bumi adalah energi ramah lingkungan yang tidak menimbulkan polusi dan kerusakan. Malahan kelestarian hutan di sekitar PLTP harus dijaga agar energi panas bumi tidak hilang. Sebab, hutan di sekitar PLTP menyimpan air untuk dijadikan uap panas bumi.

"Kalau PLN ingin uapnya terus ada, hutan di sekitar sini harus dijaga. Jadi tidak usah khawatir, sudah pasti akan menjaga lingkungan. Ini adalah energi yang ramah lingkungan," ujar Yunus.

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Nicke Widyawati, mengatakan bahwa proyek PLTP Tulehu juga menciptakan lapangan pekerjaan untuk penduduk di Pulau Ambon, khususnya di sekitar pembangkit.

Untuk pengeboran 4 sumur panas bumi tahap pertama, PLN menyerap 300 tenaga kerja, paling sedikit 85 orang di antaranya adalah penduduk lokal Desa Tulehu dan Suli.

"Terkait serapan tenaga kerja, untuk pengeboran ada sekitar 300 orang yang bekerja di area ini. 85 orang minimal berasal dari masyarakat di sini, Tulehu dan Suli," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua PLN, Haryanto WS, membeberkan bahwa PLTP Tulehu bakal menghasilkan listrik murah. Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik dari pembangkit panas bumi ini hanya sekitar Rp 1.000/kWh.

BPP tersebut jauh lebih rendah dibanding BPP rata-rata di Maluku yang mencapai Rp 1.600/kWh. Artinya, PLN memperoleh efisiensi sebesar Rp 600/kWh jika PLTP Tulehu sudah memproduksi listrik.

"(Biaya produksi listrik PLTP Tulehu) Sekitar Rp 1.000/kWh, jauh dibanding BPP lokal di sini yang Rp 1.600/kWh," tutupnya.

Jadi selain bisa melistriki ribuan rumah di Pulau Ambon, PLTP Tulehu juga menciptakan lapangan kerja untuk penduduk lokal, ramah lingkungan, sustainable, dan listriknya murah. (mca/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed