Follow detikFinance
Kamis 14 Sep 2017, 14:49 WIB

RI Bidik 18.053 MW Listrik dari Energi Terbarukan, Realisasinya?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
RI Bidik 18.053 MW Listrik dari Energi Terbarukan, Realisasinya? Foto: Eduardo Simorangkir-detikFinance
Jakarta - Kebutuhan listrik dan bahan bakar dari tahun ke tahun semakin meningkat. Namun sumber daya energi konvensional saat ini makin berkurang, sehingga perlu ada alternatif lain untuk menjaga ketahanan energi, salah satunya adalah pemanfaatan energi terbarukan.

Pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan pada tahun 2025 mendatang mencapai 23%. Dalam proyeksi hingga 10 tahun ke depan atau 2026, total ada 18.053 MW pembangkit yang direncanakan menggunakan energi terbarukan.

Manager Senior PLN Divisi Energi Baru Terbarukan, Yudistian Yunis mengatakan saat ini Indonesia baru memanfaatkan 11,9% energi terbarukan yang berasal dari air dan panas bumi sebesar 11% dan sisanya dari sumber energi terbarukan lainnya seperti matahari, biomassa dan limbah. Jumlah ini harus ditingkatkan ke angka 23% pada tahun 2025 guna mendukung ketahanan energi di masa mendatang.

"Sekarang bauran energi terbarukan kita sudah 11,9% atau sekitar 8.600 MW. 10 tahun ke depan kita harus capai ini 23%," katanya dalam diskusi di acara 6th IndoEBTKE ConEx di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (14/9/2017).

Jumlah ini dianggap akan membantu target pemerintah dalam mencapai rasio elektrifikasi pada tahun 2025 yang diharapkan sudah mencapai 100%. Rasio elektrifikasi saat ini baru mencapai angka 93,41%.

PLN sendiri dalam proyeksinya 10 tahun ke depan kata dia akan membangun pembangkit dengan total kapasitas seluruhnya 77,9 Giga Watt. PLN juga akan terus berupaya dalam mengembangkan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan, khususnya pada energi panas bumi dan juga air.

"PLN sudah melakukan inventarisasi hydro di seluruh Indonesia mulai tahun 88. Itu sudah ada dan kita sudah punya beberapa tempat yang punya potensi hydro besar-besar. Namun dalam ke depannya, kita juga memanfaatkan ketertarikan swasta untuk masuk," ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Milton Pakpahan mengatakan, Indonesia perlu mencapai target ini karena Indonesia bisa saja jadi mengimpor gas dan batu bara pada tahun 2027 dan 2046 lantaran cadangan sumber daya energi fosil yang terus menipis.

"Indonesia akan menjadi pengimpor gas pada tahun 2027 dan batubara pada tahun 2046, jika tidak ada upaya signifikan untuk menemukan cadangan baru atau untuk mengubah pola konsumsi dan meningkatkan kontribusi energi terbarukan dalam campuran energi utama," tukas dia. (eds/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed