Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 12 Mar 2018 13:05 WIB

Harga Batu Bara US$ 70/Ton, PTBA: Lebih Tinggi dari 3 Tahun Lalu

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) meyakini penetapan harga batu bara khusus pembangkit listrik sebesar US$ 70/ton tidak akan mengganggu kinerja keuangan perusahaan. Meskipun mayoritas penjualan batu bara PTBA di pasar domestik.

Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin menjelaskan penjualan batu bara perseroan sebesar 23,63 juta ton di 2017 atau sekitar 61% dijual di dalam dalam negeri dan ekspor hanya 39%.

Namun berdasarkan kewajiban DMO (Domestik Market Obligation), total batu bara yang harus dijual di dalam negeri hanya 25% dari produksi. Jika melihat harga yang ditetapkan, Arviyan memandang pemerintah masih cukup adil.

"Kita tahu 25% dari produksi harus dijual di dalam negeri. Saya melihat dengan 25% kalau dirata-ratakan masih lebih tinggi dari HBA (Harga Batu Bara Acuan) tiga tahun terakhir," tuturnya di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Senin (12/3/2018).


Arvyan menghitung, jika 25% produksi batu bara US$ 70/ton lalu sebanyak 75% dijual di harga pasar di atas US$ 100/ton, maka dirata-ratakan HBA bisa mencapai US$ 96/ton.

"HBA kita sejak 2013 rata-rata US$ 82,2/ton, 2014 itu US$ 72,6/ton. Lalu di 2015 HBA US$ 60/ton dan 2017 itu rata-rata US$ 85/ton. Jadi kalau bicara HBA US$ 96/ton itu lebih lebih baik dari tiga tahun atau bahkan lima tahun terakhir," terangnya.

Oleh karena itu, perseroan mengimbau kepada para investor agar tidak perlu khawatir akan kebijakan tersebut. Manajemen pun telah melakukan pertimbangan yang matang.

"Terlalu naif kalau dibilang enggak ada pengaruhnya. Tapi akan terkompensasi pertama 75% dijual harga tinggi sekali dan kita jual batu bara berkalori tinggi dengan harga yang premium. Jadi semua ini tentunya sudah dalam kajian kita," tegasnya.

Sepanjang 2017 PTBA sendiri berhasil mengantongi laba bersih Rp 4,47 triliun atau naik 121% dari posisi 2016 sebesar Rp 2 triliun.


Kenaikan laba bersih itu seiring dengan kenaikan pendapatan sebesar 38% daro Rp 14,05 triliun di 2016 menjadi Rp 19,47 triliun. Kenaikan pendapatan salah satunya lantaran penetrasi perseroan untuk menjual batu bara low to medium calorie.

Dari sisi volume penjualan batu bara PTBA naik 14% dari 20,75 juta ton di 2016 menjadi 23,63 juta ton batu bara di sepanjang 2017. Komposisi penjualan mayoritas masih domestik sebesar 61% dan sisanya diekspor. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed