Follow detikFinance
Kamis, 12 Jul 2018 15:56 WIB

RI Caplok 51% Saham Freeport, Ini Cadangan Emas dan Tembaganya

Hendra Kusuma - detikFinance
Tambang bawah tanah PT Freeport IndonesiaFoto: Dok. detikFinance Tambang bawah tanah PT Freeport IndonesiaFoto: Dok. detikFinance
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan PT Inalum (Persero) sudah sepakat dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk meningkatkan kepemilikan saham hingga 51%. Saat ini, kepemilikan saham pemerintah di Freeport Indonesia melalui Inalum sebesar 9,36%.

"Saya telah mendapatkan laporan bahwa holding industri pertambangan kita Inalum telah capai kesepakatan awal dengan Freeport pengolahan untuk meningkatkan kepemilikan kita menjadi 51% dari yang sebelumnya 9,36%. Alhamdulillah," kata Jokowi di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (12/7/2018).

Mengutip CNBC Indonesia, cadangan terbukti dan terkira di lapangan PTFI adalah sebesar 38,8 miliar pound tembaga, 33,9 juta ounce emas, dan 153,1 juta ounce perak. Jumlah tersebut sudah mencakup cadangan di wilayah tambah Kucing Liar yang belum dikembangkan.


Saksikan juga video 'Divestasi Saham Freeport Selesai Akhir Juli':

[Gambas:Video 20detik]



Apabila dihitung menggunakan harga rata-rata jangka panjang sebesar US$2/pound untuk tembaga, US$1.000/ounce untuk emas, dan US$15/ounce untuk perak, secara kasar lapangan PTFI masih menyimpan kekayaan senilai US$113,8 miliar, atau setara Rp1.593,2 triliun.

Berdasarkan laporan laba rugi perusahaan, PTFI mampu membukukan pendapatan sebesar US$ 4,44 miliar, atau sekitar Rp 62,16 triliun pada tahun 2017. Jumlah itu mampu meningkat 34,95% dari pendapatan tahun 2016 yang sebesar US$3,29 miliar (Rp 46,06 triliun).

Pendapatan PTFI yang melambung cukup signifikan setahun terakhir disumbang oleh penjualan emas yang meningkat nyaris 50% menjadi 1,54 juta ounce pada tahun 2017, serta penjualan perak yang juga naik 1,72% menjadi 2,96 juta ounce tahun lalu.


Di sisi lain, penjualan tembaga PTFI menurun 6,92% ke angka 980,8 juta pound pada tahun 2017.

Kemudian, laba bersih PTFI tercatat sebesar US$ 1,28 miliar (Rp 17,92 triliun) pada tahun lalu, atau mampu melambung sebesar 120% dari laba bersih tahun 2016.

Dengan nilai akuisisi 51% saham PTFI yang berkisar US$ 3 miliar sampai US$3,5 miliar, atau sekitar Rp 50 triliun, seharusnya Indonesia bisa balik modal dalam kisaran tiga tahun saja jika kinerja 2017 tersebut terjaga sampai tiga tahun selanutnya.

Aset perusahaan pada tahun 2017 tercatat senilai US$10,66 miliar, atau sekitar Rp149,24 triliun (kurs Rp 14.000/US$).


Dari neraca keuangan perusahaan tahun lalu juga dapat dilihat bahwa posisi laba ditahan mencapai US$ 6,01 miliar atau Rp 84,14 triliun. Menariknya, posisi laba ditahan yang besar tersebut hanya berujung aset lancar sebesar US$ 1,87 miliar (Rp 26,18 triliun).

Aset terbesar yang dimiliki PTFI berupa properti serta pabrik dan peralatannya senilai US$ 6 miliar atau Rp84 triliun, dan properti tambang senilai US$1,88 miliar atau Rp26,32 triliun.

Kemudian, PTFI juga tak memiliki utang jangka panjang. Sebagian besar total liabilitas perusahaan (US$ 4,36 miliar) berasal dari pajak yang ditangguhkan (deferred income taxes) sebesar US$ 1,9 miliar (Rp 26,6 triliun) dan kewajiban program pensiun (asset retirement obligations) sebesar US$ 1,2 miliar (Rp 16,8 triliun).

RI Caplok 51% Saham Freeport, Ini Cadangan Emas dan Tembaganya
(ara/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed