Follow detikFinance
Jumat, 09 Nov 2018 14:30 WIB

Harga Minyak Terjun Bebas 21% Dalam Sebulan

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Pasar minyak sedang terjun bebas. Harga minyak Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate turun 1,6% menjadi US$ 60,67 per barel pada Kamis kemarin.

Pergerakan harga minyak mentah terus bergerak turun belakangan ini. Dalam hampir sebulan, harga minyak mentah telah jatuh hingga 21% sejak ditutup pada level tertinggi empat tahun terakhir dari sebesar US$ 76,41 per barel.

Kondisi ini mungkin cukup aneh, mengingat sejumlah analisis memprediksi harga minyak bisa mendekati US$ 100 dari beberapa bulan lalu. Apalagi mengingat tindakan keras Pemerintahan Donald Trump terhadap Iran.

Merosotnya harga minyak ini sendiri telah dipicu oleh berbagai hal. Pertama, adanya kekhawatiran pertumbuhan global yang mengguncang pasar saham tumpah menjadi komoditas. Investor khawatir bahwa perlambatan ekonomi akan berdampak pada kebutuhan energi.

"Sungguh menakjubkan betapa cepat sentimen bergeser," kata Direktur Strategi Energi Global Michael Tran seperti dikutip dari CNNBusiness, Jumat (9/11/2018).

Dan meskipun saham Wall Street mengalami rebound baru-baru ini, harga minyak mentah terus jatuh. Itu karena adanya kekecewaan terhadap keputusan Presiden Trump untuk tak memberi rekomendasi kepada negara-negara seperti India, China, dan negara-negara lain untuk terus membeli minyak dari Iran yang merupakan produsen terbesar kelima di dunia.


Trump mengatakan langkah itu dirancang sebagai sanksi terhadap Iran.

"Kami akan membiarkan beberapa minyak keluar ke negara-negara ini yang benar-benar membutuhkannya, karena saya tidak ingin mendorong harga minyak hingga US$ 100 atau US$ 150 per barel," kata Trump dalam sebuah konferensi pers.

Trump berpendapat bahwa harga minyak telah turun sangat substansial ini karena dirinya.

Namun terjunnya harga minyak juga disebabkan oleh Arab Saudi yang meningkatkan produksi. Sementara produksi minyak AS mencapai di atas 11 juta barel per hari pada bulan Agustus untuk pertama kalinya. Amerika Serikat baru-baru ini melampaui Rusia dan Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar dunia.

Banjir produksi telah membantu mengangkat cadangan minyak. Persediaan minyak komersial di Amerika Serikat melonjak 5,8 juta barel pekan lalu dan sekarang 3% di atas rata-rata lima tahun.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed