Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 22 Jul 2019 13:12 WIB

Jonan Beberkan Risiko Bisnis Migas di Depan Pejabat BPK

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikFinance Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikFinance
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendatangi Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Jakarta hari ini. Jonan hadir di BPK sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Risiko Kerugian Keuangan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi.

Selain Jonan, hadir juga mengisi acara ini Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rizal Djalil. Pada acara tersebut, Jonan menerangkan, sektor minyak dan gas bumi (migas) merupakan sektor yang memiliki ketidakpastian tinggi. Sebab, tidak ada yang secara pasti kandungan dalam perut bumi.

"Di bidang migas kalau bicara hulu migas, pertambangan umum minerba, unsur ketidakpastiannya sangat tinggi," kata Jonan di BPK, Jakarta, Senin (22/7/2019).


Jonan mengatakan sektor migas merupakan sektor yang memiliki ketidakpastian tinggi. Adanya pegawai ESDM diharapkan dapat memberikan pemahaman yang sama. Dia pun memberikan penjelasan soal cadangan untuk menggambarkan ketidakpastian sektor migas.

Jonan mengatakan, selama ini banyak asumsi cadangan migas semakin lama akan semakin habis, padahal tidak yang tahu kandungan perut bumi. Maka, perlu pemahaman yang sama untuk memahami sektor tersebut.

Dia menawarkan ke BPK agar mempekerjakan pegawai Kementerian ESDM.

"Oleh karena itu banyak sifatnya asumsi, prediksi, ini menurut saya sepakat dulu. Ini penting. Mungkin saya pikir ada perlunya, di tempat Prof Rizal Djalil geologis yang di-convert pemeriksa paling tidak tenaga ahli. Kalau berkenan BPK kirim surat saya, aparatur saya, inspektur migas atau inspektur tambang saya kirim ke sana menjadi pegawai BPK, supaya ada sharing pemahaman apa yang terkandung di perut bumi atau laut tidak semua bisa diprediksi dengan pas," terang Jonan.


Dia mencontohkan, Lapangan Banyu Urip di Cepu diproduksi sekitar 10 tahun lalu. Namun, Jonan bilang, 30-40 tahun lalu Pertamina dan Humpuss mencari cadangan migas tapi tidak ketemu. Cadangan tersebut baru ketemu saat pemerintah menugaskan Pertamina dan Exxon.

"Ini satu fakta bahwa tergantung teknologi, tergantung studi eksplorasi, seismik dan sebagainya," ujarnya.

Dalam acara ini, Jonan juga bicara mengenai biaya operasi produksi migas. Menurut Jonan biaya untuk produksi bisa saja dihemat, namun perlu dicermati risiko dari penghematan tersebut. Jonan menuturkan, sektor migas merupakan sektor yang membutuhkan aspek keselamatan yang tinggi.

"Kalau mau hemat bisa, tapi ada risiko di situ. Saya sangat menganjurkan perlu, aparatur juga boleh, inspektur migas pertambangan, sebagai tenaga ahli atau dididik auditor. KPK rekrut satu orang supaya ada pemahaman yang sama kalau nggak kira-kira bisa berbahaya," tutur Jonan.

Simak Video "Diperiksa KPK, Rizal Djalil Janji Akan Kooperatif"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com