Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 09 Okt 2019 14:13 WIB

Bali Mau Genjot 'Listrik Atap', Berapa Potensinya?

Aditya Mardiastuti - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Denpasar - Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu opsi pengembangan energi baru terbarukan di Pulau Dewata. Salah satunya bisa dikembangkan dengan solar panel yang dipasang di atap rumah.

Sebenarnya berapa potensi tenaga listrik yang bisa dihasilkan oleh Bali?

Tim Community Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana telah melakukan kajian di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan (Sarbagita). Dengan empat wilayah ini saja, potensi listrik yang dihasilkan dari PLTS atap mencapai 148 mega watt peak (MWp).

"Untuk daerah yang potensi itu kami jadikan potret yaitu di kawasan ITDC, bangunan pemerintah dan juga bangunan PLN seluruh Bali, dan saat ini potensinya sekitar 148 MWp. Cukup besar jika itu dimanfaatkan semuanya," kata Ketua CORE Unud, Ida Ayu Dwi Giriantari saat ditemui di sela diskusi Peta Jalan PLTS Atap: Menuju Bali Mandiri Energi di Denpasar, Bali, Rabu (9/10/2019).

Kajian itu dia pusatkan di wilayah Bali selatan karena merupakan daerah padat penduduk. Tak cuma mengukur potensi, pihaknya juga mengukur tantangan penerapan PLTS atap ini di masyarakat.

"Sosialisasi masih kurang, masyarakat masih banyak yang belum memahami PLTS itu memiliki potensi begitu besar yang bisa dimanfaatkan, dan kedua kebijakan pemerintah yang saat ini dibutuhkan untuk mendorong itu. Sampai saat ini belum ada kebijakan bangunan-bangunan tertentu harus memanfaatkan PLTS," tuturnya.



"Kemudian ketiga proses bisnis atau secara keekonomian bagaimana win-win solution bagi masyarakat yang menggunakan dan PLN karena jaringan PLTSA itu akan terhubung dengan PLN. Jadi ada standar-standar tertentu yang harus dipenuhi itu yang belum disosialisasikan," sambung Dayu.

Dia yakin jika PLTSA ini diterapkan bisa meningkatkan branding Bali sebagai destinasi wisata yang ramah lingkungan. Apalagi citra Bali sebagai destinasi wisata dunia sudah tak diragukan lagi.

"Bali sebagai pulau dengan kunjungan wisatawan yang terus meningkat serta predikat sebagai destinasi wisata favorit dunia harus serius dalam penyediaan energi khususnya energi terbarukan. Pemanfaatan energi terbarukan di Bali bisa untuk membangun brand image positif bagi industri pariwisata. Keberhasilan praktik-praktik baik pemanfaatan energi terbarukan di Bali akan menjadi perhatian dunia atas keseriusan pemerintah RI dalam menyelamatkan lingkungan," urainya.

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Energi Sumber Daya Mineral (Kadisnaker dan ESDM) Provinsi Bali Ida Bagus Ngurah Arda mengapresiasi kajian tim CORE UNUD ini. Dia menyebut kajian ini bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan yang tengah digodok pemerintah.

"Hasil daripada kajian ini itu bisa dijadikan dasar penyusunan kebijakan atau regulasi yang kebetulan saat ini kami sedang menyusun rancangan pergub Bali energi bersih jadi kami sangat mendukung sekali acara ini," ujar Arda.

Dia menambahkan saat ini pergub tentang energi baru terbarukan masih menunggu persetujuan Kemendagri. Dalam pergub itu diatur bagaimana penggunaan energi baru terbarukan juga dengan potensi-potensi energi yang ada di Bali.

"Khususnya matahari, dan air. Itu yang dominan untuk sementara kita dorong penggunaan energi baru bersih terbarukan, target nasional itu ada 23% di 2025 dan di Provinsi Bali kita targetkan sampai 2023 minimal 10% jadi energi bersumber dari energi baru terbarukan," ujarnya.



Simak Video "PLTS Rusak, PLN di Miangas Boros Bahan Bakar"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com