Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 28 Okt 2019 10:40 WIB

Usaha Masyarakat Terbantu dengan Hadirnya Listrik PLN di Natuna

Chaidir Anwar Tanjung - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kehadiran infrastrukturPLN Wilayah Riau-Kepri di Kecamatan Pulau Tiga KabupatenNatuna, Kepri sangat membantu usaha kecil menengah masyarakat. Kaum emak-emak kini merasa sangat terbantu dengan ada pasokan listrik.

Diana (49) warga Desa Sebang Mawang, Kecamatan Pulau Tiga membuka usaha membuka kerupuk atom. Kerupuk tersebut dibuat ikan hasil tangkapan nelayan di laut Natuna.

Di rumahnya yang berbentuk panggung di tepi pantai, dia bersama empat ibu lainnya membuka usaha jualan kerupuk Atom. Kerupuk ini bentuknya dalam potongan kecil bulat sebesar jari orang dewasa. Bahan dasarnya, selain ikan dan daging ikan, ada juga telur, gula, pengembang.

Semua bahan dasar tersebut diadoni. Setelah dipotong kecil-kecil, selanjutnya digoreng dalam kuali besar. Cara masaknya masih tradisional dengan menggunakan tungku dan kayu bakar.

Siang itu, Diana lagi menggoreng kerupuk yang mereka sebut kerupuk Atom. Wanita ini baru saja pada Agustus 2019, ditinggal suami tercintanya untuk selamanya karena jatuh sakit. Kini wanita ini harus menghidupi 3 orang anaknya.

Dalam sepekan, kelompok ibu-ibu ini hanya membuat kerupuk 4 hari dalam sepekan. Kerupuk yang mereka buat rasanya gurih dan renyah. Usaha kerupuk lainnya, juga ditekuni Yami (50). Ibu dari 7 orang anak ini juga membuat usaha kerupuk Atom dan kerupuk ikan namanya. Bedanya, kerupuk ikan ini bentuknya dalam potongan tipis, sedangkan kerupuk atom bentuknya seperti bulat.

Wanita ini sudah menjual kerupuk atom dan ikan sejak tahun 1983 silam saat masih belum berumah tangga. Usaha itu terus dia tekuni hingga kini untuk membantu keuangan suaminya.

Kedua wanita Diana dan Yumi, sebagian kaum emak-emak di desa tersebut yang membuat usaha kerupuk. Kehadiran PLN bagi mereka sangat membantu dalam menjalankan usaha kecilnya.

Bagaimana tidak, dulunya, mereka ketika membeli ikan untuk bahan dasar harus juga membeli batu es di Desa Sedanau Kecamatan Pulau Tiga Barat. Untuk membeli batu es, harus menggunakan kapal pompong dan menyita waktu.

Batu es ini tentunya untuk menyimpan ikan yang telah dibeli dari nelayan. Kadang, ikan juga mereka dapatkan dari anak atau suami mereka kalau turun melaut. Setiap membeli batu es, minimal sehari harus merogoh kocek Rp 5.000. Dan itu pun es batu hanya tahan sehari saja. Sehingga mereka harus saban hari membeli batu es agar ikan untuk dijadikan kerupuk bisa bertahan.

"Batu esnya memang bisa beli harga Rp 5.000. Tapikan, kita harus membelinya dengan kapal pompong, inikan biaya juga," kata Yumi.

Membeli batu es mereka rasakan bertahun-tahun lamanya. Ini karena belum adanya listrik dari PLN. Untuk kebutuhan rumah tangga, listrik hanya mengandalkan genset yang mereka miliki. Genset juga hidup hanya untuk kebutuhan malam hari saja.

Kondisi tersebut, tidak memungkinkan masyarakat di sana memiliki kulkas untuk bisa menyimpan ikan untuk usaha kerupuknya. Genset yang mereka miliki tidak memungkinkan bisa hidup selama 24 jam. Ini belum lagi besarnya biasa untuk membeli solar.

"Sekarang ini sejak ada PLN, kami sudah punya kulkas sendiri untuk menyimpan ikan. Kami sangat terbantu sekali," kata Yami.

Mereka kini tak lagi bersusah payah harus ke pulau lainnya untuk membeli es batu. Kehadiran PLN benar-benar membantu usaha kecil menengah masyarakat di sana.

Hanya saja, usaha kerupuk yang mereka tekuni ini masih tersandung soal pemasaran. Ini karena transportasi yang sulit dari kecamatan tersebut menuju ke Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna.

Transportasi satu-satunya antar pulau ini hanya dengan kapal pompong. Ini merupakan kendala tersendiri buat mereka untuk bisa memasarkan hasil usaha kerupuknya. Masih minimnya tempat pemasaran ini, sehingga usaha mereka juga dirasakan kurang berkembang dengan baik.

Diana misalkan, penghasilnya dalam sebulan hanya kisaran Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta saja. Ini setelah membayar 4 orang tenaga kerja yang membantunya. Persoalannya, transportasi yang terbatas menyulitkan untuk melakukan penjualan.

Padahal, kerupuk mereka ini juga diminati masyarakat di wilayah Kepri lainnya. Misalkan saja, adanya permintaan dari Batam. Namun permintaan tersebut belum bisa sepenuhnya dilayani, karena keterbatasan transportasi dari desa mereka ke pusat kota kabupaten.

Ini belum lagi dari kota Ranai menuju Batam transportasi udara hanya ada dua kali penerbangan. Itupun jumlah penerbangannya tidak penuh dalam sepekan. Sedangkan kalau mengandalkan pengiriman lewat kapal Pelni, memakan waktu yang cukup lama yakni tiga hari dua malam. Kabupaten Natuna, memang terbatas soal transportasi untuk masyarakatnya.

Desa Sabang Mawang ini, pada tahun 2010 sebenarnya sudah masuk listrik yang dikelola perusahaan daerah (Prusda). Kehadiran Prusda ini memang membantu masyarakat dalam penggunaan listrik. Masyarakat tak lagi menggunakan genset di rumah mereka.

Hanya saja, kehadiran listrik Prusda ini tidak bisa menyala selama 24 jam. Sehingga kondisi usaha kerupuk juga tidak bisa terbantu maksimal. Masyarakat juga tidak bisa menggunakan kulkas untuk menyimpang ikan mereka.

Perbedaannya, mesin genset di rumah masing-masing tak lagi bising karena sudah tergantikan listrik Prusda. Begitu pun, mereka tetap mengeluhkan kondisi kelistrikannya. Mereka merindukan listrik PLN yang bisa menyala selama 24 jam tanpa henti.

Apa yang diharapkan, akhirnya terwujud. Program Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memperhatikan pulau terdepan, mendorong PLN untuk segera menerangi wilayah perbatasan.

Pada tahun 2017, PLN Wilayah Riau-Kepri mulai membangun jaringan infrastruktur di sana. Setrum BUMN itu akhirnya mengalir ke rumah-rumah masyarakat. Tercatat, di 2019 sudah ada 743 pelanggan PLN di sana dengan beban puncak 328 KW. Daya terpasang di pulau itu 1100 KW daya mampu 1000 KW.

Kehadiran PLN di sana, juga membuat wajah Hanafi pengusaha cool storage pemilik CV Mina Sejahtera menjadi sumringah. Usaha ini berdiri di Desa Sabang Mawang Barat. Perusahaan pendinginan ikan ini menjadi pelanggan PLN pada Juli 2019 dengan daya 197 kVA.

Sebelum hadirnya PLN, mesin pendingin ikan ini terpaksa menggunakan genset sendiri. Rata-rata dalam sehari mesin diesel perusahaan itu harus menyedot 330 liter solar per harinya untuk kebutuhan genset 300 kVA.

Selain untuk kebutuhan pendinginan ikan, usaha lainnya adalah pembuatan batu es. Dalam sebulan, minimal membutuhkan 10 ribu liter solar. Bisa dibayangkan, berapa kebutuhan duit yang harus terkuras untuk kebutuhan BBM solar dengan harga industri.

Gudang cool storage milik Hanafi ini mampu menampung 120 ton ikan dengan suhu minus 20, sedangkan untuk freezer pendinginan pertama sebelum masuk gudang dengan minus suhu 30. Ini belum lagi pabrik es yang mereka kelola.

Hitungan kasar, harus mengeluarkan kocek membeli solar minimal Rp 100 juta dalam sebulan. Ini di luar biasa kebutuhan oli dan perawatan. Kondisi perusahaan yang sebelumnya dikelola pengusaha asal Singapura itu dirasakan sangat berat biaya operasional sebelum kehadiran PLN.

"Sekarang kami hanya bayar tagihan listrik rata-rata Rp 65 juta sampai Rp 69 juta per bulan. Kami tak lagi mengeluarkan dana untuk membeli oli dan maintenance lainnya. Sangat menguntungkan kehadiran PLN ini," kata Hanafi.

Dalam membuka usaha cool storage ini Hanafi dibantu dua orang lainnya yakni Masadi bidang teknis dan Herman bagian lapangan.

Usaha batu es mereka juga kini berkembang, sejak tak mengandalkan genset. Satu batang batu es untuk kebutuhan para nelayan biasa di jual Rp 50 ribu. Es ini saban hari nelayan silih berganti membelinya jika akan melaut.

Batangan es disimpan dalam boks yang tahan menyimpang es dalam sepekan. Batangan es terlebih dahulu digiling lewat mesin untuk menjadi pecahan kecil. Di boks tersebut, nantinya ikan hasil tangkapan di laut Natuna akan disimpan para nelayan.

Setelah sepekan melaut, nanti hasilnya mereka jual kembali ke perusahaan yang dikelola Hanafi. Masyarakat sangat bersyukur bisa menikmati listrik PLN walau mereka menikmatinya setelah 74 tahun Indonesia merdeka.
Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan. Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!





Simak Video "Mengenal Ragam Budaya Suku Dayak Lundayeh di Rumah Kubu"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com