Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 14 Nov 2019 17:00 WIB

Ada BBM Satu Harga, Warga Perbatasan Tak Lagi Beli Solar ke Malaysia

Uji Sukma Medianti - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Krayan -

Martin Palung (73) seorang warga desa Long Midang, Krayan Kabupaten Nunukan kini sudah tak lagi repot-repot membeli solar ke negeri tetangga, Malaysia. Secara geografis Krayan yang terletak di ujung utara Kalimantan ini memang lebih dekat ke Malaysia daripada ke Indonesia. Wilayah ini dikelilingi oleh hutan hijau yang masih lebat.

Minimnya akses jadi kendala terbesar di Krayan. Kendaraan roda empat yang lalu lalang di Krayan pun hanyalah kendaraan offroad saja. Mobil sedan hampir dipastikan tidak bisa melintas karena beratnya medan jalan yang belum teraspal seluruhnya.

Untuk pergi ke wilayah Indonesia tepatnya ke Kabupaten Nunukan dari Krayan hanya bisa ditempuh melalui jalur udara saja menggunakan pesawat perintis jenis caravan dan vilatus.

Sementara untuk pergi ke Malaysia bagian Serawak dari Krayan, dapat ditempuh melalui jalur darat lewat Ba'kelalan.

"Puji Tuhan sekarang solar sudah tidak perlu lagi beli dari Malaysia," ucap Martin kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Martin bercerita, saat listrik belum masuk di Desa Long Midang ia harus menggunakan solar sel yang merupakan bantuan pemerintah pusat. Namun, ketika musim hujan tiba, ia yang tinggal hanya berdua dengan sang istri harus kembali mengandalkan genset untuk menerangi rumah di malam hari.

Menggunakan genset juga bukan bukan perkara mudah. Martin harus membeli solar sebagai bahan bakarnya. Harga jual solar di Ba'kelalan Malaysia bisa Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per liternya.

"Kita butuh sekitar 3 liter buat semalaman itu," ujar Martin.

Hal yang sama juga dialami oleh Nosnaima (43) warga Desa Long Midang lainnya. Nosnaima mengaku tekor tiap harinya harus membeli solar demi memasok kebutuhan listrik di rumahnya. Apalagi ia juga memiliki kafe kecil-kecilan yang harus dipasok kebutuhan listriknya.

Perbatasan Indonesia-Malaysia Long Midang KrayanPerbatasan Indonesia-Malaysia Long Midang Krayan Foto: (Pradita/detikcom)

"Di sini dulu solar paling murah pernah Rp 13 ribu. Itu juga masih mahal lah," tuturnya.

Cara satu-satunya untuk menekan pengeluaran adalah dengan berhemat. "Jadi sebelum jam 12 lampu TV sudah harus mati, tinggal lampu saja dinyalakan sampai pagi biar hemat listrik kita kan," terangnya.

Namun, kondisi tersebut lambat laun berubah. Tepatnya pada 2016, Pertamina sudah mulai mewujudkan Program BBM Satu Harga di perbatasan Krayan. Yakni dengan membuka Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) di dua titik yakni Long Nawang dan Krayan Selatan pada 2016 lalu.

Kehadiran dua APMS di Krayan banyak mengubah hidup warga khususnya dari segi ekonomi. Nosnaima mengaku tidak lagi merogoh kocek terlalu dalam buat membeli solar.

"Satu liternya sekarang sudah Rp 5.150 (solar - Pertamina). Jadi kita keluarkan Rp 18.000 buat tiga liter lebih sudah bisa menonton tv sampai jam 12 malam," terangnya.

Ada BBM Satu Harga, Warga Perbatasan Tak Lagi Beli Solar ke MalaysiaAPMS di Krayan, Nunukan Kalimantan Utara Foto: Uji Sukma Medianti/detikcom

Camat Krayan Induk Helmi Pudaaslikar menyebut adanya program BBM Satu Harga yang sampai di Krayan sudah turut membantu roda perekonomian masyarakat.

Pasokan BBM ini disebutkan Helmi dikirim melalui pesawat jenis vilatus. "Di Krayan kalau angkut BBM punya Pertamina pakai pesawat yang warna kuning itu (vilatus)," tuturnya.

Adapun APMS di Krayan hanya menjual BBM jenis premium dengan solar. Harganya Rp 6.450/liter untuk premium dan Rp 5.150/liter untuk solar subsidi.





Simak Video " Prediksi November Solar Subsidi Habis, Pertamina Minta Masyarakat Bijak"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com