Menimbang Untung Rugi Angkat Bos Pertamina dari 'Staf Biasa'

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 17 Jul 2020 18:15 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membuka kesempatan untuk seluruh pegawai Pertamina bisa menempati berbagai posisi strategis seperti Senior Vice President (SVP), hingga jajaran direksi. Kebijakan itu bisa menjadi kekuatan dan kelemahan.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menilai alangkah baiknya memang posisi direksi diisi oleh orang dalam karena sudah berpengalaman bekerja di perusahaan itu.

"Idealnya memang direksi itu mereka yang pernah berkarier di perusahaan itu karena ada kompleksitas dari perusahaan. Jadi biasanya mereka diharapkan saya selalu bilang namanya skill set, keahlian-keahlian yang memang ditempa dari pengalaman karena pernah terlibat dalam bisnis perusahaan itu. Dalam hal ini kalau Pertamina ya proses bisnis Pertamina," katanya kepada detikcom, Jumat (17/7/2020).

Namun jika posisi direksi diisi oleh orang dalam saja, Fabby bilang, keputusan manajemen (management decision) tidak akan optimal karena banyak rekan kerja terdahulunya.

"Biasanya kalau diambil dari orang dalam untuk melakukan sebuah reformasi atau restrukturisasi yang drastis biasanya tidak enak karena ada temannya jadi itu bisa saja management decision itu tidak optimal. Sementara kalau dari luar yang tidak punya keterikatan psikologis atau relasi dengan unit yang dulu atau teman-temannya, keputusan bisnis itu lebih mudah diambil," tuturnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Menurutnya, untuk menduduki posisi direksi dari pihak luar maupun dari dalam sama saja yang terpenting memiliki kompetensi hingga integritas.

"Kalau saya sih tidak memisahkan dari luar atau dari dalam karena semuanya punya plus minus, masing-masing punya keunggulan. Kalau dari dalam dukungan dari internal tentu lebih kuat, tapi kalau dari luar biasanya sudah lebih jauh bebas kepentingan sehingga dalam memimpin mungkin lebih oke," ujarnya.

"Tapi nggak menjamin juga, jadi sebenarnya dari luar atau dalam yang penting adalah kapabilitas, integritas dan objektif dari pemerintah apa," tambahnya.



Simak Video "Polisi Tangkap 2 Pelaku Pencemaran Nama Baik Ahok"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)