Capai 1.445 MB, Produksi Pertamax di Kilang RFCC Cilacap Alami Kenaikan

Abu Ubaidillah - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2020 18:27 WIB
RFCC Refinery Unit (RU) IV Cilacap
Foto: Pertamina
Jakarta -

Data produksi dan pengapalan (lifting) menyebut produksi BBM jenis Pertamax di kilang Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Refinery Unit (RU) IV Cilacap pada September 2020 mencapai 1.445 million barrel (MB), Jumlah ini naik dari September 2019 yang mencapai 1.127 MB.

"Sedangkan untuk lifting pada September 2020 sebanyak 1.513 MB naik dari 1.227 MB pada September 2019," ujar Unit Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina RU IV Cilacap, Hatim Ilwan dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2020).

Hatim menyebut data ini bisa menjadi bukti naiknya kesadaran masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan, selaras dengan semangat Pertamina RU IV Cilacap untuk menjadi perusahaan energi yang efisien dan ramah lingkungan.

"Kilang RFCC menjadi pelopor kilang modern Pertamina yang ramah lingkungan dan terus meningkatkan standar produknya setara Euro 4, atau Euro 3. Ini terus berlanjut dengan hadirnya Klang Langit Biru Cilacap dan saat ini yang sedang berlangsung proyek kilang RDMP," imbuhnya.

Pertama kali Pertamax diluncurkan pada 10 Desember 1999 menggantikan Premix 1994 dan Super TT 1998 dengan kandungan unsur methyl tertra butyl ether (MTBE) yang kurang ramah lingkungan.

Pertamax mengandung oktan 92 berstandar internasional untuk kendaraan bermotor, produksinya saat ini dilakukan di 3 kilang Pertamina, yakni RU III Plaju, RU IV Cilacap, dan RU VI Balongan.

Menurut Hatim, kilang RFCC pertama kali memproduksi Pertamax pada tahun 2016. Saat ini Pertamax diproduksi dengan mencampur produk dari platformate dan gasoline RFCC.

Pertamax direkomendasikan untuk kendaraan dengan kompresi 10:1 dan 11:1 atau kendaraan berbahan bakar bensin yang menggunakan teknologi setara electronic fuel injection (EFI). Ini karena di dalam Pertamax ada kandungan pelindung anti karat untuk dinding tangki kendaraan, saluran bahan bakar dan ruang bakar mesin serta menjaga kemurnian bahan bakar dari campuran air yang membuat pembakaran menjadi lebih sempurna.

Pertamax dinilai lebih ramah lingkungan karena kandungan sulfurnya maksimal 50 ppm, sesuai baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O.

"Peraturan ini menetapkan bahwa gas buang kendaraan bermotor maksimal 50 ppm, sehingga masyarakat mendapatkan produk Pertamax berkualitas tinggi dan ramah lingkungan dengan gas buang yang lebih sedikit," pungkas Hatim.

(mul/mpr)