Freeport-Perusahaan China Bakal Garap Proyek Smelter Rp 25 T

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 23:08 WIB
Smelter
Ilustrasi smelter/Foto: detikcom
Jakarta -

Rencana PT Freeport Indonesia (PTFI) membangun pabrik peleburan (smelter) di Indonesia menemukan titik terang. Freeport akan bekerja sama dengan perusahaan asal China, Tsingshan Steel untuk mewujudkannya.

Melansir Asia Times, Senin (30/11/2020), PTFI dan Tsingshan sepakat untuk membangun fasilitas smelter senilai US$ 1,8 miliar atau setara Rp 25,38 triliun (kurs Rp 14.100). Smelter itu akan dibangun di kompleks pengolahan nikel Teluk Weda di Halmahera, Indonesia timur.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam wawancara dengan Asia Times mengungkapkan bahwa kesepakatan itu diharapkan bisa ditandatangani sebelum Maret mendatang. "Kami senang dengan kesepakatan tersebut. Tetapi kedua belah pihak masih dalam pembahasan rinci," tutur Luhut, dikutip dari Asia Times.

Hingga saat ini, pilihan pembangunan smelter adalah memperluas pabrik peleburan tembaga Mitsubishi yang ada di Gresik, Jawa Timur, membangun peleburan baru yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau mengalihkan seluruh proyek ke Halmahera sebagai bagian dari pusat peleburan terintegrasi.

Luhut dan sumber lain yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan, Tsingshan telah setuju untuk menyelesaikan pembangunan smelter dalam waktu 18 bulan. Perusahaan juga berkomitmen untuk pembangunan kilang logam mulia di lokasi yang sama sekarang setelah izin ekspornya telah berakhir.

Sebelumnya Luhut mengatakan pembuatan smelter itu akan segera dimulai dengan target penyelesaian pada tahun 2023. Dia mengatakan smelter ini akan memproduksi sulfide yang menjadi bahan baku baterai lithium.

"Kami yakin smelter dapat beroperasi pada tahun 2023. mereka juga akan memproduksi sulfide yang bisa jadi bahan baku lithium battery," kata Luhut.

Dengan pembangunan smelter ini menurutnya Indonesia bisa menjadi pemain global pada industri baterai listrik.

"Pada tahun 2023 kami yakin kami dapat memproduksi baterai lithium dan Indonesia bisa menjadi bagian dari rantai pasok baterai listrik global," ungkap Luhut.

(das/hns)