Pepet Freeport, China Mau Garap Proyek Smelter Tembaga di RI

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 07 Des 2020 19:45 WIB
Logo Freeport tembaga. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: dikhy sasra
Jakarta -

PT Freeport Indonesia (PTFI) mengakui sedang didekati oleh Tsingshan Steel, perusahaan asal China untuk membangun smelter tembaga di Halmahera, Maluku Utara.

"Di satu sisi memang benar, bahwa kami di-approach oleh Tsingshan yang berkeinginan juga membangun smelter tembaga di Halmahera dan kami masih dalam tahap pembicaraan," kata Presiden Direktur PTFI Clayton Allen Wenas dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, di Jakarta, Senin (7/12/2020).

Pria yang akrab disapa Tony itu menjelaskan, pihaknya terbuka dengan ajakan kerja sama tersebut. Namun, pihaknya tetap menunggu keputusan pemerintah.

"Ya tentu arahan dari pemerintah juga dong. Apapun pilihan kita tetap harus arahan pemerintah itu utama," ujarnya.

Saat ini, pihaknya masih mempelajari sisi ekonomi dari ajakan kerja sama tersebut. "Kita lagi meng-eksplore, teknisnya bagaimana, keekonomiannya seperti apa. Kira-kira kapan selesainya, dan ini masih dalam pembicaraan, belum ada kesepakatan apa pun juga," ujar Tony.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Holding Pertambangan MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, tawaran itu masih dibahas oleh pihaknya dengan PTFI. Namun, ia mengatakan keputusannya akan ditetapkan pada kuartal I-2021.

"Kita mau melangkah cepat, tapi kalau dengan Tsingshan kita akan hadapi dua tahun baru, yang sekarang dan Februari ada tahun baru lagi (Imlek) yang memang akan berdampak seberapa cepat keputusan penting itu diambil," terang Orias.

Sembari menunggu kepastian kerja sama dengan Tsingshan ini, Tony menjelaskan PTFI masih terus melanjutkan proyek smelter tembaga di JIIPE Gresik. Saat ini, prosesnya masuk pada pile loading test tiang pancang.

"Jadi test pile di 16 titik dengan kedalaman sekitar 15 meteran," papar Tony.

Merespons itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno mengingatkan akan potensi kerugian dari proyek smelter Gresik jika dibangun oleh PTFI sendiri.

Oleh karena itu, Eddy meminta agar BUMN tambang bisa menemukan pilihan yang tepat dari semua peluang yang ada untuk menekan kerugian.

"Karena bagaimanapun juga kita akan mencari keseimbangan antara melakukan processing di dalam negeri dan menjaga keekonomian sehingga perusahaan bisa terhindar dari kerugian," kata Eddy.

Menjawab itu, Orias mengatakan pihaknya tentunya mendukung proyek ini jika dari sisi ekonomi bisa mengurangi potensi kerugian yang bisa ditanggung MIND ID selaku pemegang saham mayoritas PTFI dari proyek smelter di Gresik.

Pasalnya, untuk proyek smelter di Gresik membutuhkan investasi sebesar US$ 3 miliar. MIND ID yang mengantongi 51,2% saham PTFI akan menanggung sekitar US$ 1,2 sampai 1,5 miliar. Sementara itu, kehadiran Tsingshan bisa menekan modal yang harus dikeluarkan MIND ID.

"Kami berkontribusi terhadap capex dan ini berdampak ke kami. Memang kami mendukung apabila ada pengeluaran untuk smelter lebih kecil dibandingkan hitungan awal," tutup Orias.

(dna/dna)