Akar Masalah Singapura Terancam Gelap Gulita

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 20 Okt 2021 06:15 WIB
Kasus harian COVID-19 di Singapura terus cetak rekor baru. Pada Rabu (29/9) kemarin kasus harian COVID-19 Singapura bahkan melampaui kasus harian di Indonesia.
Foto: Getty Images
Jakarta -

Krisis energi telah terjadi di beberapa negara di dunia. Ancaman krisis ini juga tengah melanda Singapura.

Jika krisis energi terjadi, Singapura bisa gelap gulita. Indonesia bisa jadi faktor penyebab krisis itu. Alasannya, pasokan gas alam ke Singapura dari Indonesia belum sepenuhnya pulih sejak mengalami gangguan pada Juli.

Dikutip dari Reuters, Selasa (19/10/2021), pekan lalu Energy Market Authority menyatakan, gangguan pasokan gas di Indonesia telah berkontribusi pada lonjakan harga listrik.

"Lonjakan baru-baru ini dapat dikaitkan dengan sejumlah faktor, termasuk permintaan listrik yang lebih tinggi dari biasanya, pemadaman beberapa unit pembangkit, pembatasan gas dari Natuna Barat, serta tekanan pendaratan yang rendah dari gas yang dipasok dari Sumatera Selatan," kata EMA, melansir Reuters, akhir pekan lalu.

Sementara itu, SKK Migas menyatakan, distribusi gas mulai membaik meski belum pulih seutuhnya.

"Distribusi gas pada September sudah mulai membaik dibandingkan Juli yang mengalami gangguan produksi, namun belum kembali normal seperti awal tahun ini," kata Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno.

"Hal ini disebabkan penurunan laju produksi gas di salah satu lapangan," tambahnya.

Gangguan yang terjadi di Juli disebabkan oleh berhentinya Lapangan Anoa dan pemeliharaan di Lapangan Gajah Baru. Keduanya terletak di Natuna.

Juru Bicara SKK Migas Migas Rinto Pudyantoro mengatakan, produksi di Natuna turun 27,5% dari puncak sebelumnya menjadi 370 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

(acd/eds)