Solar Langka, Apakah RI Mulai Krisis Energi?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 20 Okt 2021 19:00 WIB
Mulai hari ini berbagai harga BBM turun serentak, mulai dari bensin premium, solar, Pertamax hingga Pertalite. Harga premium di wilayah Jawa-Madura-Bali turun dari Rp 7.400/liter jadi Rp 7.050/liter.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Solar di beberapa daerah sempat langka. Kelangkaan ini muncul di tengah kabar krisis energi yang melanda sejumlah negara.

Lalu, apakah krisis energi melanda Indonesia?

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan, Indonesia tidak dalam kondisi krisis energi. Sebab, Indonesia memiliki sejumlah sumber energi. Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengelolaan sumber energi tersebut.

"Menurut saya Indonesia tidak mengalami krisis energi karena kita punya beberapa sumbernya baik dari migas, batu bara atau yang lainnya, hanya bagaimana kita nanti mengelolanya itu yang lebih penting," katanya kepada detikcom seperti ditulis Rabu (20/10/2021).

Julius juga bicara mengenai kondisi Singapura. Singapura sendiri terancam krisis energi karena pasokan gas alam dari Indonesia belum pulih. Jika krisis energi terjadi, Singapura bisa gelap gulita.

Julius bilang, pasokan gas alam ke Singapura saat ini sudah cukup atau normal.

"Pasokan ke Singapura beberapa waktu yang lalu memang sedikit berkurang karena adanya unplanned shutdown atau kegagalan operasional yang berbarengan dengan kegiatan maintenance, tetapi sekarang pasokan sudah cukup alias normal memenuhi ketentuan minimum kontrak," terangnya.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa mengatakan, kemungkinan kelangkaan solar di berbagai daerah dipicu oleh harga minyak yang tinggi. Dia menduga, kuota solar subsidi sudah mulai tipis sehingga dibatasi.

"Ini harus dicek, yang saya duga yang pertama karena memang kuotanya sudah mau habis jadi harus dibatasi. Distribusinya yang subsidi dibatasin," katanya kepada detikcom.

Kemudian, ia juga menduga, hal itu sebagai langkah Pertamina untuk mengantisipasi pihak-pihak yang tak layak mendapat solar subsidi. Sebab, harga solar industri harganya lebih tinggi.

Meski demikian, ia menyebut, fenomena itu bukanlah krisis energi. Sebab, pasokan energi relatif stabil.

"Kedua, upaya untuk pembatasan ini dilakukan oleh Pertamina dalam rangka menghindari agar mereka yang tidak layak membeli solar bersubsidi jangan sampai pengguna industri membeli solar bersubsidi," katanya.

"Menurut saya tidak. Kita tidak mengalami kekurangan pasokan energi dan harga energi di dalam negeri relatif stabil, serta tidak ada efek panic buying. Kelangkaan yang terjadi hanya BBM jenis solar dan tidak masif. Pasokan bahan bakar untuk pembangkit listrik PLN juga aman dan tidak ada pemadaman bergilir," terangnya.

(acd/eds)