Inggris-China Krisis Energi, Indonesia Kudu Piye?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 22 Okt 2021 17:30 WIB
Krisis energi tengah menimpa sejumlah negara besar. Krisis energi yang terjadi memberikan dampak yang bermacam-macam. Mulai dari kekurangan pasokan BBM hingga krisis listrik.
Foto: Pool
Jakarta -

Krisis energi tengah melanda Inggris dan China. Krisis energi itu terjadi salah satunya disebabkan oleh transisi menuju energi baru terbarukan yang tidak berjalan mulus.

Indonesia pun bisa belajar dari Inggris dan China agar hal serupa tidak terjadi.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana menjelaskan, saat ini adalah saat yang tepat untuk mendorong energi baru terbarukan. Dengan beralih ke energi baru terbarukan, maka Indonesia tidak berurusan dengan harga komoditas yang melambung tinggi.

"Kan kita tidak berurusan dengan harga yang sekarang makin naik ya, batu bara sudah demikian tinggi, gas juga demikian mahal," katanya dalam konferensi pers, Jumat (22/10/2021).

Memang, dia mengatakan, perlu antisipasi agar krisis energi tidak terjadi. Menurutnya, jangan sampai suatu daerah tergantung pada satu pembangkit dari energi baru terbarukan. Maka itu, perlu cadangan sumber energi lain.

"Jangan sampai misalkan suatu daerah, satu lokasi hanya di-support oleh PLT EBT yang sifatnya intermittent, kan kalau angin tidak bisa dijamin 24 jam akan ada angin terus, jadi selalu harus ada pembangkit cadangan kalau pada saat-saat tertentu sumbernya terganggu atau berubah," katanya.

Oleh sebab itu pihaknya telah menyusun peta jalan net zero emission, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan lain-lain. Dia bilang, semua itu basisnya adalah memaksimalkan dari sisi bauran energi tersebut.

"Jadi tidak ada daerah yang secara khusus misalkan hanya mempunyai pembangkit angin," katanya.

(acd/das)