ADVERTISEMENT

Ada 'Penghalang' Transisi LPG ke DME hingga Mobil Listrik, Siapa Ya?

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 01 Des 2021 20:30 WIB
Menteri Investasi RI Bahlil Lahadalia menghadiri pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Kader Organisasi Tingkat Daerah (Diklatda) HIPMI Jaya di Jakarta.
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia ungkap ada oknum yang menghalangi proyek transformasi ekonomi RI, mulai dari transisi LPG (Liquified Petroleum Gas) ke DME (Dimethyl Ether) hingga proyek mobil listrik.

Perihal transisi LPG ke DME, menurut Bahlil oknum yang menghalangi ini tidak ingin proyek transisi ini terjadi. Padahal saat ini impor LPG Indonesia dinilai cukup tinggi.

"Kementerian Investasi berdasarkan perintah bapak Presiden bekerja sama dengan Menteri ESDM dan BUMN untuk melakukan proses hilirisasi batu bara kalori rendah yaitu DME. Ini salah satu syarat kita keluar dari jebakan pendapatan menengah. Saya ingin mengatakan bahwa ini bukan hal yang gampang. Saya tahu ada yang main-main tidak mau proses ini terjadi," kata Bahlil dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/12/2021).

Transformasi LPG ke DME itu disebut akan menekan impor batu bara Indonesia. Karena berdasarkan catatannya, setiap tahunnya Indonesia selalu impor gas LPG 5,5 juta ton hingga 6 juta ton.

"Di mana harga sekarang LPG 1 ton, US$ 850 dan rakyat mendapatkan hanya 5300/kg. Sedangkan per satu juta ton negara subsidi Rp 12,6 triliun, lalu dikali 5,5 hampir Rp 60-70 triliun," ungkap Bahlil.

Dengan catatan itu, Bahlil mengungkap RI harus bangkit. "Kita harus bangkit, DME ini ada yang mencoba-coba menghalangi kami akan tetap kan maju terus," tegasnya.

Kemudian, mengenai transformasi ekonomi soal mobil listrik juga disebut ada pihak yang tidak setuju. Bahlil pun memperingatkan oknum tersebut untuk tidak menghalangi RI salah satu proyek energi bersih itu.

"Kepada siapa saja oknum pengusaha, oknum pejabat, oknum BUMN dengan transformasi ekonomi ini saya harap minggir. Karena Indonesia harus maju, cukup negara kita dipermainkan," tuturnya.

Mengapa mobil listrik mulai digenjot RI, menurut Bahlil saat ini banyak negara sudah menjajaki mobil listrik. Dengan begitu, diungkapkan RI bukan hanya main di baterai mobil saja, tetapi juga akan menjajaki pembuatan mobil listrik.

"Vietnam itu mulai bicara mobil listrik. Di Indonesia saya sudah ke Eropa berencana untuk mengakuisisi mobil. Nanti kita tidak hanya pemain baterai tetapi juga kita pemain mobil," jelasnya.

"Karena negara harus maju. Kami nggak segan-segan untuk maju terus, sebagai bentuk bagi bangsa dan negara. Kalau bicara merah putih sekarang dan nggak punya warna-warna lain untuk kepentingan rakyat dan negara," tegas Bahlil.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT