Begini Kontribusi 3 Subholding Pertamina Turunkan Emisi Karbon

Atta Kharisma - detikFinance
Rabu, 08 Des 2021 12:14 WIB
Pertamina Energy Webinar
Foto: Pertamina
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) mendorong seluruh lini bisnis yang dikelola oleh anak perusahaan atau subholding untuk berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Perusahaan Gas Negara (PGN) M Haryo Yunianto dalam acara Pertamina Energy Webinar 2021.

Subholding gas Pertamina yang dikelola oleh PT PGN Tbk memegang peranan besar dalam transisi energi dan program dekarbonisasi, dengan kontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca hingga 6 juta ton setara karbon dioksida (C02e). Angka tersebut berasal dari pemanfaatan gas bumi untuk pembangkit listrik sebesar 1.100 BBTUD atau setara 5.600 MW.

Dalam rangka untuk terus mendukung pemerintah dalam proses transisi energi dan program dekarbonisasi tersebut, Haryo menuturkan pihaknya berkomitmen untuk terus menyediakan energi bersih yakni gas bumi bagi masyarakat Indonesia.

"Ke depan, kami akan terus meningkatkan peran untuk mendukung pemerintah dalam proses transisi energi dan program dekarbonisasi," ungkap Haryo dalam keterangan tertulis, Rabu (8/12/2021).

Ia mengemukakan di tahun 2022 Subholding Gas Pertamina akan mulai mengonversi sebanyak 52 pembangkit berbahan bakar minyak di wilayah Indonesia tengah dan timur dengan gas alam cair (LNG).

Haryo menambahkan PGN juga telah merencanakan penambahan infrastruktur untuk meningkatkan pemanfaatan energi bersih gas melalui pembangunan pipa distribusi sepanjang 32.509 km, pipa transmisi 83 km, dan penambahan satu juta sambungan rumah tangga untuk pelanggan city gas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan PT KAI (Persero) untuk memanfaatkan stasiun kereta sebagai tempat regasifikasi LNG yang selanjutnya gasnya disalurkan ke rumah tangga dengan pipa. PGN juga akan membangun regasifikasi LNG skala besar di Cilacap dan Teluk Lamong untuk mendukung program tersebut.

Sementara itu, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Joko Widi Wijayanto menerangkan sebagai Subholding Kilang dan Petrokimia, pihaknya mempunyai tiga skema transisi energi yakni co-processing, conversion, dan alternatives.

Co-processing adalah RBDPO dicampur dengan bahan baku fosil untuk diproses bersama di kilang yang ada. Untuk conversion, 100% bahan baku CPO diproses di kilang revamped/modifikasi yang ada. Sedangkan, skema alternatif berupa pemanfaatan sumber alternatif terbarukan seperti minyak goreng bekas, mikroalga, dan green methanol.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Jaffee Arizon Suardin menegaskan sumber minyak bumi masih mempunyai peran penting dalam proses transisi energi.

"Dalam transisi energi ini, minyak masih tetap diperlukan, sehingga kami terus melakukan upaya peningkatan produksi," ungkapnya.

Jaffee mengatakan sejak alih kelola ke Pertamina pada Agustus 2021, produksi Blok Rokan terus mengalami peningkatan. Pada bulan tersebut, rata-rata produksi mencapai 158.000-159.000 barel per hari dan di bulan November kembali mengalami peningkatan menjadi 162.000 barel per hari.

"Artinya, kita tidak hanya mampu menahan penurunan natural decline, tapi kita mampu meningkatkan produksi," tuturnya.

Ia menilai kegiatan pemboran pada 2021 ini mencapai di atas target yang ditetapkan. Dari rencana awal melakukan tajak sumur pemboran sebanyak 44 sumur sampai saat ini sudah terealisasi 114 sumur, lalu untuk rig pemboran dari rencana 9 rig, tercapai 17 rig dan rig WOWS dari 25 terealisasi 29 rig.

"Pada tahun ini, kami berhasil membor 1 sumur setiap harinya dengan biaya lebih efisien 10%," jelasnya.

Jaffee juga menambahkan untuk tahun depan pihaknya akan lebih agresif lagi melakukan pemboran. Pada tahun 2022, PHR berencana melakukan tajak pemboran sebanyak 500 unit sumur, 20 rig pemboran, dan 40 rig WOWS untuk mencapai rata-rata produksi 180 ribu barel per hari.

Jaffee menjelaskan pihaknya akan terus melakukan steam flood dan chemical enhanced oil recovery (CEOR) untuk meningkatkan produksi di Blok Rokan. Selain itu, pihaknya juga berencana memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Blok Rokan dalam upaya mendukung transisi energi.

"Kami berkomitmen terus meningkatkan produksi dan investasi, sehingga akan berdampak kepada Provinsi Riau dan masyarakatnya," pungkasnya.

Kinerja dan kontribusi ketiga Subholding Pertamina dalam penurunan emisi disampaikan dalam acara Pertamina Energy Webinar dengan tema 'Energizing Your Future'. Webinar tersebut dihadiri oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sekjen Kementerian ESDM Ego Syahrial, Direksi Pertamina Grup serta narasumber eksternal Jonathon Smith (Sustainalytics) dan Stephen Jones (Development Planner ExxonMobil).

(fhs/hns)