Trump Ancam Hancurkan Iran dalam Semalam Jika Tak Buka Hormuz, Harga Minyak Meroket

Trump Ancam Hancurkan Iran dalam Semalam Jika Tak Buka Hormuz, Harga Minyak Meroket

Heri Purnomo - detikFinance
Selasa, 07 Apr 2026 14:14 WIB
Donald Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto: Shutterstock/istock
Jakarta -

Harga minyak dunia meroket usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam menyerang Iran terkait belum dibukanya Selat Hormuz.

Ancaman Trump tersebut yaitu Iran akan "dihancurkan dalam satu malam" jika tidak segera membuka Selat Hormuz.

Dikutip dari CNBC, Selasa (7/4/2026), kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik lebih dari 2,9% ke level US$ 115,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni juga menguat sekitar 1,5% ke posisi US$ 111,43 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga minyak ini terjadi karena gangguan pasokan global setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman sejak perang pecah pada 28 Februari.

Adapun pada Senin kemarin, Trump mengulangi ancamannya AS akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum pukul 8 malam waktu setempat pada hari Selasa.

ADVERTISEMENT

Trump juga menyebutkan Iran sedang bernegosiasi dengan sungguh-sungguh dengan AS.

"Mereka punya waktu sampai besok," Trump.

"Sekarang kita akan lihat apa yang terjadi. Saya bisa memberi tahu Anda, mereka sedang bernegosiasi, kami pikir dengan itikad baik, kita akan segera mengetahuinya. Kami mendapatkan bantuan dari beberapa negara luar biasa yang ingin ini diakhiri, karena ini juga memengaruhi mereka," sambung Trump.

Berdasarkan laporan Reuters, AS dan Iran sedang membahas upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 5 minggu.

Namun, Iran menolak usulan gencatan senjata dari AS. Usulan Iran adalah penghentian permanen konflik, jalur aman di Selat Hormuz, hingga pencabutan sanksi.

Trump menanggapi usulan tersebut dengan mengatakan bahwa usualan itu cukup signifikan dan ia pun sebenarnya belum mengambil langkah apa-apa.

"Mereka mengajukan usulan yang signifikan. Belum cukup baik, tetapi mereka telah mengambil langkah yang sangat signifikan. Kita akan lihat apa yang terjadi," kata Trump.

Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda pemulihan. Tercatat delapan kapal tanker melintas pada awal pekan ini, naik dari rata-rata kurang dari dua kapal per hari pada Maret.

Namun, angka tersebut masih jauh di bawah kondisi normal, di mana sekitar 20 juta barel minyak per hari biasanya melewati jalur tersebut pada tahun 2025.

Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni mengatakan karena hasil dari perundingan perdamaian masih belum jelas membuat investor tetap waspada dan terjebak di antara memperkirakan berakhirnya konflik dalam waktu dekat atau peningkatan eskalasi lebih lanjut.

"Tidak ada cara untuk memprediksi hasilnya. Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan Iran menyerah. Atau, Trump mungkin menunda tenggat waktu lagi, dengan menjelaskan bahwa negosiasi mengalami kemajuan. Atau perang akan meningkat," kata Yardeni.

Simak Video 'Iran soal Ancaman Trump: Arogansi dari Presiden Gangguan Mental':

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads