RI Butuh 8,6 Juta Ton LPG tapi Produksi Cuma 1,6 Juta Ton, Sisanya Impor!

RI Butuh 8,6 Juta Ton LPG tapi Produksi Cuma 1,6 Juta Ton, Sisanya Impor!

Herdi Alif Al Hikam, Retno Ayuningrum - detikFinance
Selasa, 28 Apr 2026 07:30 WIB
An Indian liquefied petroleum gas (LPG) carrier, Shivalik, arrives at Mundra Port via the Strait of Hormuz, amid the U.S.-Israel conflict with Iran, in Gujarat, India, March 16, 2026. REUTERS/Amit Dave
Ilustrasi kapal LPG.Foto: REUTERS/Amit Dave
Jakarta -

Indonesia masih tergantung impor LPG. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia Indonesia harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Di sisi lain konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya mampu mencapai -1,7 juta ton.

"Dari 8,6 juta ton itu hanya kurang lebih sekitar 1,6-1,7 juta ton yang produksinya dalam negeri. Selebihnya kita impor kurang lebih sekitar 7 juta ton," ujar Bahlil usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahlil menerangkan kondisi ini sudah terjadi sejak pemerintah melakukan konversi dari minyak tanah ke LPG. Bahlil mengaku hampir setiap malam tidak sempat istirahat lantaran mengkaji lebih dalam mencari sumber energi alternatif LPG.

ADVERTISEMENT

Sebab, produksi bahan baku utama LPG, gas propana dan butana di dalam negeri masih terbatas.

"Hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya, dan salah satu problem kita di Indonesia kenapa tidak bisa kita membangun industri LPG adalah bahan baku LPG itu C3, C4 dan itu produksi di kita tidak terlalu banyak," terang Bahlil.

Sebagai solusinya, Bahlil menyiapkan proses transisi energi dengan menggunakan bahan bakar dimetil eter (DME) dan pemanfaatan compressed natural gas (CNG).

Bahlil menjelaskan bahan baku untuk CNG tersedia melimpah di dalam negeri. Dengan menggunakan teknologi tekanan tinggi, gas tersebut bisa dimanfaatkan secara baik.

"(CNG) dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak. Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya sehingga pemakaiannya itu bisa baik," jelas Bahlil.

Rencana penerapan CNG masih dalam tahap konsolidasi. Bahlil tak ingin gegabah sebelum hasil kajian benar-benar matang.

"Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi. Ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan," tambah Bahlil.

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads