Mau Investasi Bitcoin? Biar Aman Pakai Uang Dingin

Atta Kharisma - detikFinance
Jumat, 03 Des 2021 07:45 WIB
Ilustrasi dompet Bitcoin
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Semua jenis aset investasi memiliki risiko penurunan harga. Saham, emas, forex, properti, hingga aset kripto seperti Bitcoin memiliki risikonya masing-masing. Saat investasi mengalami penurunan nilai, maka Anda mengalami kerugian.

Maka dari itu menggunakan uang dingin adalah jalan terbaik untuk mengantisipasi hal tersebut agar keuangan tidak terdampak signifikan.

Orang-orang yang menggeluti dunia investasi tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah uang dingin. Itu adalah uang nganggur yang berasal dari dana yang belum jelas peruntukannya atau belum diketahui akan digunakan untuk apa.

Artinya uang dingin tidak berasal dari dana yang dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari seperti uang makan (uang dapur), transportasi, dana untuk membayar tagihan atau cicilan, dana darurat, dan sebagainya.

Sebagai contoh, bayangkan jika Anda menggunakan dana sewa rumah Anda untuk membeli 1 gram emas senilai Rp 1 juta, kemudian harga emas mendadak turun menjadi Rp 850 ribu per gram. Pastinya Anda akan merasa was-was atau panik karena uang tersebut akan Anda gunakan untuk bayar sewa rumah dalam waktu dekat.

Lantas apa hubungan menggunakan uang dingin dengan investasi Bitcoin? Kripto dikenal sebagai aset investasi yang nilainya terus meningkat. Dalam waktu 10 tahun saja, harga Bitcoin berhasil naik hingga mencapai miliaran rupiah. Kendati demikian, harga Bitcoin dan aset kripto bersifat sangat volatil atau fluktuatif.

Dengan menggunakan uang dingin sebagai alat investasi, Anda tidak akan cemas saat harga Bitcoin menurun. Karena, dana yang Anda gunakan bukan lah dana yang akan digunakan dalam waktu dekat, sehingga berkurang atau hilangnya dana tersebut tidak akan mempengaruhi kondisi keuangan Anda secara signifikan.

Selain uang dingin, salah satu hal yang dapat Anda lakukan untuk meminimalisir keresahan saat harga turun adalah dengan mengendapkan aset Bitcoin. Artinya, Anda tidak menjual Bitcoin sampai harganya kembali naik. Hal ini dikenal juga dengan sebutan HODL (Hold on for Dear Life).

Misalnya harga Bitcoin yang anda beli dengan harga Rp 100 ribu mengalami penurunan 10%, sehingga menjadi Rp 90 ribu. Anda dapat menunggu harga tersebut kembali stabil atau bahkan mengalami peningkatan sebelum menjual aset Bitcoin, sehingga bisa memperoleh keuntungan lebih dari harga semula.

Perkembangan teknologi membuat investasi Bitcoin kini dapat dilakukan dengan mudah. Salah satunya melalui aplikasi Luno milik PT Luno Indonesia Ltd, yang membantu mempermudah Anda dalam melakukan investasi Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Luno Indonesia juga sudah terdaftar di Bappebti selaku regulator yang mengatur kegiatan jual beli aset kripto di Indonesia, sehingga keamanan transaksi tak perlu Anda khawatirkan.



Simak Video "Respon Pedagang Soal Halal Atau Haram Kripto"
[Gambas:Video 20detik]
(ads/ads)