Sementara itu faktor eksternal juga masih terlihat dalam mendorong pelemahan rupiah. Terutama kepanikan pasar atas rencana penarikan stimulus oleh Bank Sentral AS The Fed. Ini pun juga berdampak terhadap mata uang lainnya di negara-negara Asia.
Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian pun mengeluarkan kebijakan ekonomi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) menilai, kondisi ini akibat kebijakan pemerintah yang dinilai belum konkret diterima oleh pasar dan investor.
Terutama dalam penurunaan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang saat ini masih di atas 3%.
Salah satu kebijakan yang digagas pemerintah adalah pemanfaatan bahan bakar biofuel dengan tujuan mengurangi impor. Namun buktiya impor migas masih tetap tinggi sampai bulan terakhir.