Jepang - Kapal riset Jepang, Chikyu, meluncur untuk menguji pengangkatan lumpur kaya unsur tanah jarang dari dasar laut. Uji coba ini menjadi yang pertama di dunia.
Foto Bisnis
Wujud Kapal Riset Jepang untuk Uji Lumpur Tanah Jarang Laut Dalam
Kapal penelitian Jepang, Chikyu, bersiap meninggalkan Pelabuhan Shimizu, Prefektur Shizuoka, Jepang, untuk misi riset unsur tanah jarang di Samudra Pasifik. Tanah jarang laut dalam adalah harta tersembunyi yang selama puluhan tahun hanya dikenal lewat riset ilmiah, bukan eksploitasi. Unsur-unsur ini—seperti neodymium, dysprosium, dan terbium—menjadi tulang punggung teknologi modern, mulai dari baterai kendaraan listrik, turbin angin, hingga perangkat elektronik berpresisi tinggi. Foto: REUTERS/Yuka Obayashi
Chikyu dilengkapi sistem pengeboran canggih yang memungkinkan pengambilan lumpur dasar laut dari kedalaman sekitar 6 kilometer secara berkelanjutan. Berbeda dengan tambang di darat, tanah jarang di laut dalam tidak berbentuk batuan keras. Ia terkandung dalam lumpur halus di dasar samudra, terutama di wilayah palung dan cekungan laut dalam pada kedalaman ribuan meter. Proses pembentukannya berlangsung sangat lama, ketika partikel mineral dari daratan dan aktivitas vulkanik laut mengendap perlahan selama jutaan tahun. Foto: REUTERS/Yuka Obayashi
Awak kapal melakukan pengecekan peralatan sebelum pelayaran menuju perairan dekat Pulau Minamitori, wilayah terluar Jepang di Samudra Pasifik. Ketertarikan dunia terhadap tanah jarang laut dalam muncul seiring meningkatnya kebutuhan global dan ketergantungan pada pasokan terbatas dari darat. Jepang termasuk negara yang paling serius meneliti potensi ini, terutama setelah menemukan endapan lumpur kaya unsur tanah jarang di sekitar Pulau Minamitori. Temuan tersebut membuka kemungkinan sumber alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan impor. Foto: REUTERS/Yuka Obayashi
Uji coba ini menjadi tonggak baru riset kelautan global karena untuk pertama kalinya lumpur kaya unsur tanah jarang diangkat langsung ke atas kapal. Foto: REUTERS/Yuka Obayashi
Pemerintah dan peneliti Jepang berharap riset Chikyu membuka peluang sumber daya strategis baru sekaligus memperkuat kemandirian pasokan mineral masa depan. Foto: REUTERS/Yuka Obayashi
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































