Hadapi Risiko Iklim dan Global, Industri Sawit Diminta Lebih Antisipatif

Tungkot Sipayung Pakar Agribisnis dan Pertanian, Frans BM Dabukke Tenaga Ahli Menteri Bappenas, Lupi Hartono Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP saat menjadi pembicara dalam diskusi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). Industri kelapa sawit masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap devisa ekspor nonmigas dengan nilai lebih dari US$30 miliar per tahun
Di balik kontribusi tersebut, industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks. Meningkatnya risiko iklim, tuntutan standar keberlanjutan global, serta persoalan tata kelola dan produktivitas di tingkat tapak menuntut pendekatan kebijakan yang tidak lagi bersifat reaktif, melainkan mampu mengantisipasi risiko sejak dini dan memperkuat ketahanan industri dalam jangka panjang.
Menanggapi kondisi tersebut, Prasasti Center for Policy Studies menekankan pentingnya kebijakan yang bersifat preventif dan antisipatif sebagai fondasi penguatan industri kelapa sawit nasional.
Board of Trustees Prasasti, Fuad Bawazier, yang menilai bahwa masyarakat saat ini hidup dalam kondisi iklim yang jauh berbeda dan semakin menantang. Oleh karena itu, aspek keberlanjutan menjadi elemen yang tidak terpisahkan dalam penguatan ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Dalam konteks ketahanan nasional, Fuad menegaskan bahwa industri kelapa sawit memiliki peran yang sangat strategis. Dengan pangsa produksi sekitar 58 persen dari total produksi global, sektor ini diperkirakan menopang hingga 16,5 juta lapangan kerja.
Tungkot Sipayung Pakar Agribisnis dan Pertanian, Frans BM Dabukke Tenaga Ahli Menteri Bappenas, Lupi Hartono Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP saat menjadi pembicara dalam diskusi di Jakarta, Kamis (5/2/2025). Industri kelapa sawit masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap devisa ekspor nonmigas dengan nilai lebih dari US$30 miliar per tahun
Di balik kontribusi tersebut, industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks. Meningkatnya risiko iklim, tuntutan standar keberlanjutan global, serta persoalan tata kelola dan produktivitas di tingkat tapak menuntut pendekatan kebijakan yang tidak lagi bersifat reaktif, melainkan mampu mengantisipasi risiko sejak dini dan memperkuat ketahanan industri dalam jangka panjang.
Menanggapi kondisi tersebut, Prasasti Center for Policy Studies menekankan pentingnya kebijakan yang bersifat preventif dan antisipatif sebagai fondasi penguatan industri kelapa sawit nasional.
Board of Trustees Prasasti, Fuad Bawazier, yang menilai bahwa masyarakat saat ini hidup dalam kondisi iklim yang jauh berbeda dan semakin menantang. Oleh karena itu, aspek keberlanjutan menjadi elemen yang tidak terpisahkan dalam penguatan ketahanan ekonomi dan energi nasional.
Dalam konteks ketahanan nasional, Fuad menegaskan bahwa industri kelapa sawit memiliki peran yang sangat strategis. Dengan pangsa produksi sekitar 58 persen dari total produksi global, sektor ini diperkirakan menopang hingga 16,5 juta lapangan kerja.