Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun

Foto Bisnis

Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun

Ari Saputra - detikFinance
Minggu, 07 Jun 2026 10:29 WIB

Jakarta -
Selama 42 tahun mengolah ban bekas, Tampi berhasil menghidupi keluarga hingga membangun rumah dari usaha yang digelutinya.

Sosok Tampi yang Sudah 42 Tahun Memotong Ban Mobil Bekas ----- Tampi (68) mengiris ban mobil bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia memperoleh upah Rp 1.000 dari setiap ban bekas yang ia belah. Selain itu, Tampi akan berkeliling mencari ban bekas dengan upah Rp 4.000/ban pada tiap hari Jumat. Tampi tinggal di kontrakan pinggir rel Tanah Abang dengan biaya Rp 400.000/bulan. Kakek asal Nganjuk tersebut mulai merantau ke Jakarta sejak 1984 dan langsung bekerja sebagaimana yang terlihat hingga saat ini. Funfact: pada masa reformasi 1998, ia pernah diperiksa pihak berwenang karena diduga mensuplai ban bekas untuk para demonstran. Ia diberi nama Tampi oleh orangtuanya sebagai doa menjadi orang yang pandai bersyukur dan menerima (Tampi, dalam bahasa Jawa artinya menerima)
Tampi (68) mengiris ban mobil bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Sosok Tampi yang Sudah 42 Tahun Memotong Ban Mobil Bekas ----- Tampi (68) mengiris ban mobil bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia memperoleh upah Rp 1.000 dari setiap ban bekas yang ia belah. Selain itu, Tampi akan berkeliling mencari ban bekas dengan upah Rp 4.000/ban pada tiap hari Jumat. Tampi tinggal di kontrakan pinggir rel Tanah Abang dengan biaya Rp 400.000/bulan. Kakek asal Nganjuk tersebut mulai merantau ke Jakarta sejak 1984 dan langsung bekerja sebagaimana yang terlihat hingga saat ini. Funfact: pada masa reformasi 1998, ia pernah diperiksa pihak berwenang karena diduga mensuplai ban bekas untuk para demonstran. Ia diberi nama Tampi oleh orangtuanya sebagai doa menjadi orang yang pandai bersyukur dan menerima (Tampi, dalam bahasa Jawa artinya menerima)
Selama lebih dari empat dekade, pria tersebut menggantungkan hidup dari mengolah ban bekas menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Sosok Tampi yang Sudah 42 Tahun Memotong Ban Mobil Bekas ----- Tampi (68) mengiris ban mobil bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia memperoleh upah Rp 1.000 dari setiap ban bekas yang ia belah. Selain itu, Tampi akan berkeliling mencari ban bekas dengan upah Rp 4.000/ban pada tiap hari Jumat. Tampi tinggal di kontrakan pinggir rel Tanah Abang dengan biaya Rp 400.000/bulan. Kakek asal Nganjuk tersebut mulai merantau ke Jakarta sejak 1984 dan langsung bekerja sebagaimana yang terlihat hingga saat ini. Funfact: pada masa reformasi 1998, ia pernah diperiksa pihak berwenang karena diduga mensuplai ban bekas untuk para demonstran. Ia diberi nama Tampi oleh orangtuanya sebagai doa menjadi orang yang pandai bersyukur dan menerima (Tampi, dalam bahasa Jawa artinya menerima)
Usaha yang dirintis sejak puluhan tahun lalu itu bermula dari pekerjaan sederhana memanfaatkan limbah ban kendaraan yang sudah tidak terpakai. Dengan keterampilan yang diperoleh secara turun-temurun dan diasah selama bertahun-tahun, Tampi mampu mengubah ban bekas menjadi berbagai produk yang masih dibutuhkan masyarakat.

Sosok Tampi yang Sudah 42 Tahun Memotong Ban Mobil Bekas ----- Tampi (68) mengiris ban mobil bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia memperoleh upah Rp 1.000 dari setiap ban bekas yang ia belah. Selain itu, Tampi akan berkeliling mencari ban bekas dengan upah Rp 4.000/ban pada tiap hari Jumat. Tampi tinggal di kontrakan pinggir rel Tanah Abang dengan biaya Rp 400.000/bulan. Kakek asal Nganjuk tersebut mulai merantau ke Jakarta sejak 1984 dan langsung bekerja sebagaimana yang terlihat hingga saat ini. Funfact: pada masa reformasi 1998, ia pernah diperiksa pihak berwenang karena diduga mensuplai ban bekas untuk para demonstran. Ia diberi nama Tampi oleh orangtuanya sebagai doa menjadi orang yang pandai bersyukur dan menerima (Tampi, dalam bahasa Jawa artinya menerima)

Dari hasil usahanya tersebut, Tampi tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membiayai keluarga dan membangun rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Pencapaian tersebut diraih melalui proses panjang yang penuh tantangan, terutama saat menghadapi naik turunnya permintaan pasar dan perubahan kondisi ekonomi.

Sosok Tampi yang Sudah 42 Tahun Memotong Ban Mobil Bekas ----- Tampi (68) mengiris ban mobil bekas di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia memperoleh upah Rp 1.000 dari setiap ban bekas yang ia belah. Selain itu, Tampi akan berkeliling mencari ban bekas dengan upah Rp 4.000/ban pada tiap hari Jumat. Tampi tinggal di kontrakan pinggir rel Tanah Abang dengan biaya Rp 400.000/bulan. Kakek asal Nganjuk tersebut mulai merantau ke Jakarta sejak 1984 dan langsung bekerja sebagaimana yang terlihat hingga saat ini. Funfact: pada masa reformasi 1998, ia pernah diperiksa pihak berwenang karena diduga mensuplai ban bekas untuk para demonstran. Ia diberi nama Tampi oleh orangtuanya sebagai doa menjadi orang yang pandai bersyukur dan menerima (Tampi, dalam bahasa Jawa artinya menerima)

Bagi Tampi, ban bekas bukan sekadar limbah yang tidak bernilai. Material tersebut menjadi sumber penghasilan utama yang menopang kehidupan keluarganya selama puluhan tahun. Setiap hari, ia mengolah ban yang telah rusak menjadi produk yang dapat digunakan kembali sehingga memiliki nilai jual.
Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun
Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun
Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun
Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun
Ban Bekas Jadi Sumber Rezeki, Tampi Bangun Rumah dari Usaha 42 Tahun
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads