Jakarta - KSSK memastikan stabilitas fiskal, moneter, dan keuangan RI tetap terjaga pada triwulan II 2026 di tengah gejolak ekonomi global.
Foto Bisnis
Konflik Global Tekan Ekonomi Dunia, Indonesia Tetap Optimistis Tumbuh Kuat
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut perekonomian dunia masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut berdampak pada pasokan energi, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya risiko perdagangan global.
Tekanan global juga memicu kenaikan inflasi di sejumlah negara dan mempersempit ruang kebijakan moneter. Selain itu, pasar keuangan dunia mengalami volatilitas akibat meningkatnya fenomena perpindahan investasi ke aset yang dianggap lebih aman.
Meski menghadapi tekanan eksternal, KSSK optimistis ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh kuat. Daya beli masyarakat yang terjaga melalui berbagai stimulus ekonomi dan program perlindungan sosial menjadi salah satu penopang pertumbuhan nasional.
Purbaya menegaskan pemerintah bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dengan koordinasi antar lembaga tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diproyeksikan tetap berada pada jalur positif, yakni di kisaran 5,6 hingga 6 persen meski perekonomian dunia masih dibayangi berbagai gejolak.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan tiga pembaruan utama terkait kondisi perbankan nasional, mulai dari kinerja simpanan, tingkat bunga penjaminan, hingga resolusi bank. Anggito memaparkan bahwa kinerja pertumbuhan simpanan tetap terjaga untuk seluruh kelompok simpanan atau kliring. Per Juni 2026, pertumbuhan tahunan simpanan lintas kelompok kliring berkisar antara 0,78% hingga 15,44%, tergantung kelompok kliring yang dilihat. Menurutnya, hal ini menunjukkan kemampuan menabung di seluruh kelompok masyarakat masih terjaga lintas waktu.










































