Jakarta - BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 22,93 juta orang atau 7,94 persen dari total penduduk.
Foto Bisnis
Angka Penduduk Miskin RI Menurun, Kini Tercatat 22,93 Juta Orang
Sejumlah warga beraktivitas di kawasan permukiman padat Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (5/8/2026).Β Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta jiwa, turun dari 23,36 juta jiwa pada September 2025. Angka tersebut menjadi sinyal perbaikan kondisi kemiskinan secara nasional.
Namun di balik statistik yang membaik, kehidupan di permukiman padat masih memperlihatkan kenyataan yang tak selalu sejalan dengan angka. Bagi banyak keluarga, persoalan utama bukan sekadar keluar dari kategori miskin, melainkan bagaimana bertahan hidup hingga akhir bulan.
Di Cilincing, denyut kehidupan dimulai sejak pagi. Buruh harian, nelayan, pemulung, pedagang kaki lima, hingga pekerja serabutan terus berburu penghasilan yang belum tentu datang setiap hari.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, ongkos transportasi, dan kebutuhan tempat tinggal membuat sebagian besar pendapatan habis bahkan sebelum bulan berganti. Sedikit guncangan ekonomi saja dapat kembali mendorong keluarga rentan jatuh ke jurang kemiskinan.
Banyak warga memang tidak lagi masuk dalam kategori miskin menurut ukuran statistik. Namun mereka masih hidup dalam kondisi serba pas-pasan dengan ruang gerak ekonomi yang sangat terbatas.
Lorong-lorong sempit, rumah berdempetan, serta minimnya ruang terbuka menjadi potret bagaimana keterbatasan ekonomi masih membentuk wajah permukiman padat di ibu kota.
Bagi sebagian warga, pekerjaan bukan soal memilih profesi, melainkan menerima apa pun yang tersedia demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anak tetap bisa bersekolah.
Penurunan angka kemiskinan menjadi capaian yang patut diapresiasi. Namun keberhasilan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan meningkatnya kualitas hidup seluruh masyarakat, terutama mereka yang masih berada di garis paling rentan. Pengentasan kemiskinan tidak berhenti ketika angka statistik menurun. Tantangan sesungguhnya adalah menciptakan pekerjaan yang layak, pendapatan yang stabil, serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan hunian yang lebih baik.
Selama masih ada keluarga yang harus mengorbankan kebutuhan dasar demi bertahan hidup, kemiskinan belum benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk dan menjadi semakin sulit terlihat dalam deretan angka.
Di tengah optimisme penurunan kemiskinan nasional, kehidupan warga di permukiman padat mengingatkan bahwa kesejahteraan tidak cukup diukur dari statistik. Ia harus benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari oleh mereka yang masih berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar.










































