IHSG Ambruk 11,57%, Ditutup di Level 5.185


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,11 pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Pelemahan tajam ini terjadi setelah MSCI membuka konsultasi publik terkait rencana reklasifikasi Indeks MSCI Indonesia menjadi Standalone Market.




Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bergerak dalam rentang 5.185,11 hingga 5.404,51 sepanjang perdagangan. Dari ratusan saham yang tercatat, sebanyak 812 saham melemah, 11 saham menguat, dan 140 saham tidak mengalami perubahan.




Tekanan jual juga melanda sejumlah saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) masing-masing terkoreksi 15% ke level Rp1.190, Rp1.615, dan Rp476.




Pelemahan tajam turut dialami saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) sebesar 14,97% ke Rp1.250, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) sebesar 14,92% ke Rp1.055, serta PT Indika Energy Tbk. (INDY) sebesar 14,88% ke Rp2.060.




Seiring dengan konsultasi publik tersebut, MSCI mengonfirmasi akan tetap membekukan sejumlah penyesuaian indeks terhadap efek asal Indonesia hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan ini berjalan bersamaan dengan proses peninjauan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjalankan berbagai langkah untuk memperkuat transparansi, integritas, dan kualitas pasar modal. BEI menghormati independensi MSCI, tetapi akan meminta klarifikasi mengenai dasar penilaian reklasifikasi tersebut dengan mempertimbangkan berbagai kemajuan dan reformasi yang telah dilakukan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,11 pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Pelemahan tajam ini terjadi setelah MSCI membuka konsultasi publik terkait rencana reklasifikasi Indeks MSCI Indonesia menjadi Standalone Market.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bergerak dalam rentang 5.185,11 hingga 5.404,51 sepanjang perdagangan. Dari ratusan saham yang tercatat, sebanyak 812 saham melemah, 11 saham menguat, dan 140 saham tidak mengalami perubahan.
Tekanan jual juga melanda sejumlah saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45. Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) masing-masing terkoreksi 15% ke level Rp1.190, Rp1.615, dan Rp476.
Pelemahan tajam turut dialami saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) sebesar 14,97% ke Rp1.250, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) sebesar 14,92% ke Rp1.055, serta PT Indika Energy Tbk. (INDY) sebesar 14,88% ke Rp2.060.
Seiring dengan konsultasi publik tersebut, MSCI mengonfirmasi akan tetap membekukan sejumlah penyesuaian indeks terhadap efek asal Indonesia hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan ini berjalan bersamaan dengan proses peninjauan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjalankan berbagai langkah untuk memperkuat transparansi, integritas, dan kualitas pasar modal. BEI menghormati independensi MSCI, tetapi akan meminta klarifikasi mengenai dasar penilaian reklasifikasi tersebut dengan mempertimbangkan berbagai kemajuan dan reformasi yang telah dilakukan.