Jurus RI Salip Otomotif Thailand: Dorong Produksi LCGC 400 Ribu Unit/Tahun

Dina Rayanti - detikFinance
Jumat, 29 Apr 2016 12:54 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Bekasi - Industri otomotif Tanah Air masih kalah dibandingkan Thailand. Kalau dilihat dari jumlah penduduk, Indonesia merupakan pasar yang paling potensial dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta orang.

"Kalau lihat produksi (Indonesia dan Thailand) jomplang. Thailand lebih tinggi, kita perlu menarik investor-investor supaya produksi bisa lebih tinggi, aneh penduduk kita 250 juta orang Thailand nggak sebanyak itu, tapi banyakan Thailand produksinya di industri otomotif," ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan pada Focus Group Discussion (FGD) Forum Wartawan Industri bertajuk 'Membedah Struktur Industri Komponen Otomotif Nasional di Cibitung, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (29/4/2016).

Untuk bisa menyalip Thailand, Putu mengatakan, akan dikembangkan produksi mobil ramah lingkungan atau LCGC (Low Cost Green Car). Ia yakin apabila tercapai dalam kurun waktu 5 tahun Indonesia bisa menyalip Thailand.

"Kita punya program LCGC yang terus dikembangkan kurang dari 5 tahun bisa menyalip Thailand harusnya. Kita punya potensi lebih besar harus dijadikan target bersama goal kita beat Thailand untuk hasilkan kendaraan bermotor. Kita gawangnya itu bisa beat dari Thailand, beat dalam arti bisa memproduksi kendaraan bermotor," lanjut Putu.

Berdasarkan data Gaikindo, produksi mobil di Indonesia tahun 2015 mencapai 1.098.780 unit, angka ini menurun jika dibandingkan tahun 2014 yan mencapai 1.298.523 unit.

Dari sisi ekspor CBU (Compeletely Built Unit) pada 2015 mencapai 207.691 unit meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 202.273 unit.

Putu menambahkan, pemerintah terus mendorong industri otomotif untuk mampu memproduksi LCGC hingga 400 ribu unit per tahun. Salah satu dorongan itu dengan memberikan insentif.

"Saya tetap di program LCGC target 400 ribu unit belum tercapai. Kita coba dorong LCGC ke depan insentif lebih tinggi. Ke depan LCGC berbasis listrik mungkin gas atau diesel," tuturnya. (hns/hns)