Follow detikFinance
Selasa 14 Jun 2016, 21:12 WIB

Ketua KEIN: Dulu Unggul, Kini Industri RI Tertinggal dari Malaysia dan Thailand

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Ketua KEIN: Dulu Unggul, Kini Industri RI Tertinggal dari Malaysia dan Thailand Foto: Arif Arianto
Jakarta - Ketua Komisi Ekonomi Industri (KEIN) Sutrisno Bachir menyampaikan pendapatnya soal arah pembangunan Indonesia yang dulu dibandingkan saat ini. Memasuki era globalisasi, Indonesia dirasa masih perlu untuk melakukan banyak perubahan demi mengejar ketertinggalan-ketertinggalan yang selama ini kurang dicermati.

"Ekonomi kita tumbuh dari konsumsi, dari ekspor bahan mentah, stakeholder dari kegiatan ekonomi kita yang kurang sehat. Sehingga banyak orang tidak dengan bekerja keras bisa menikmati keuntungan yang besar. Apakah itu korupsi atau melakukan suatu kegiatan ekonomi yang dengan mudah mengambil keuntungan yang besar seperti kartel dan monopoli," katanya dalam paparan diskusi bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Kantor KEIN, Jakarta, Selasa (14/06/16).

Selama ini negara Indonesia dirasa tidak menyadari akan ketertinggalannya dibanding negara-negara yang dulunya masih ada di belakang kita seperti Malaysia dan Thailand. Sutrisno mencontohkan negara Jepang, China, Taiwan, dan Korea juga dulunya merupakan negara yang konsumtif, namun mampu menjadi negara yang produktif.

"Negara-negara Asia lainnya yang dulu jauh kalah dari kita sekarang sudah melebihi seperti Malaysia dan Thailand. Bukti empiris ada. Kita ketinggalan terus dengan negara-negara yang dulu di belakang kita atau sama dengan kita," ujarnya.

"Di Eropa ada Jerman yang bisa kita lihat. Kalau industri kecil kita lihat Taiwan. Di Jepang industrinya besar-besar tapi tidak mengurusi yang di bawahnya. China lain lagi. Nah kita ini nggak berhasil. Nggak ada yang kita lakukan selama ini," imbuhnya.

Untuk itu Sutrisno mewakili KEIN pun berharap, dengan hadirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) tidak hanya sekedar menjadi pengawas saja, namun juga bagaimana ikut mendorong pertumbuhan ekonomi negara dengan menyehatkan industri yang selama ini kurang kompetitif.

"Kita harapkan KPPU bukan sekedar menjadi pengawas saja tetapi bagaimana berperan menyehatkan ekonomi kita ini. Contohnya di pangan yang ada kartel. Misalnya petani itu belinya terbatas. KPPU harus bagaimana jadi pejuang rakyat. Lembaga seperti SNI juga harus turun lebih kuat supaya produk impor tidak sembarangan masuk. Supaya bisa mengikuti standard kita. Bangsa kita sudah dibrainwash supaya mau beli barang murah saja," pungkasnya. (feb/feb)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed