Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 05 Sep 2016 19:47 WIB

Petani Jepara Mengadu ke Susi, Garam Dibeli Tengkulak Hanya Rp 300/Kg

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: dikhy sasra Foto: dikhy sasra
Jakarta - Rendahnya harga garam jadi perkara yang paling dikeluhkan oleh sebagian besar petani garam di Kabupaten Jepara. Ketiadaan pabrik, serta penjualan garam yang harus lewat tengkulak, jadi sebab rendahnya harga garam yang dipanen petani.

Mukhsin, Ketua Kelompok Petani Garam Tirta Mili, mengatakan harga garam sejak awal tahun lalu hanya laku seharga Rp 300/kg di tengkulak. Dirinya mengaku, hampir semua petani garam di Jepara tak memiliki akses langsung menjual ke pabrik garam.

"Harganya Rp 300/kg, nggak ada koperasi yang menyerap. Harus lewat tengkulak, mau dijual ke mana lagi? Tahun lalu masih bisa Rp 500/kg, jualnya lewat tengkulak, mereka datang angkut pakai truk," ujar Mukhsin kepada detikFinance ditemui di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Senin (5/9/2016).

Setali tiga uang, petani garam lainnya, Sokib juga mengeluhkan harga garam petani yang terlampau rendah di Jepara. Rendahnya harga garam dan ketergantungan pada tengkulak, lantaran belum ada pabrik pengolahan garam di Jepara.

"Kenapa harga garam di Jepara ini yang paling rendah di Jawa Tengah dibandingkan daerah lain seperti Pati, karena di sini tidak ada pabrik garam. Garam kita dijual yah dikirim ke sana," kata Sokib.

Merespon keluhan para petani garam ini, Susi lantas meminta BUMN produsen garam, PT Garam, melakukan penyerapan hasil panen garam dari petani Jepara. Bahkan, Susi membagikan nomor handphone jika ada petani yang garamnya tidak diserap dengan harga Rp 600/kg.

"Garam kalau sesuai kualitasnya, harus dibeli PT Garam. Kalau nggak dibeli, Bapak-bapak SMS saya, ini nomor saya 0811211365," tutup Susi. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com