Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 23 Nov 2016 10:37 WIB

Banyak Investor Antre Bila Harga Gas Turun Jadi US$ 3/MMBtu

Yulida Medistiara - detikFinance
Foto: Yulida Medistiara Foto: Yulida Medistiara
Jakarta - Harga gas untuk industri dikeluhkan pelaku industri karena mahal daripada negara lain sehingga sulit bersaing. Pemerintah saat ini sedang berupaya menurunkan harga gas hingga US$ 6/MMBtu atau lebih rendah lagi agar dapat berdaya saing.

Kementerian Perindustrian tidak mau jika harga gas untuk industri dipatok US$ 6/MMBtu karena tidak bisa bersaing. Menurut Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit jika harga gas turun menjadi US$ 3/MMbtu maka akan ada beberapa industri petrokimia dari mulai methanol hingga turunannya yang akan berinvestasi di Teluk Bintuni, Papua.

"Kita nggak mau kalau US$ 6/MMBtu harus lebih rendah. Kita maunya US$ 3/MMBtu untuk Bituni lah karena untuk petrochemical baru. Karena investor maunya US$ 3/MMbtu karena di tempat remote area (pedalaman)," kata pria yang akrab disapa Sigit, di kantornya, Selasa (22/11/2016).

Namun, jika harga gas dipatok di atas US$ 3/MMbtu atau sekitar US$ 4/ MMBTU - US$ 6/MMBtu maka harus ada regulasi yang disesuaikan.

"Artinya kalau harganya US$ 4/MMbtu atau US$ 5/MMBtu tapi harus ada regulasi policy yang disesuaikan," kata Sigit.

Bahkan, beberapa pabrik petrokimia mengantre membangun industri di Teluk Bintuni seperti PT Pupuk Indonesia, Sojizt, Ferrostaal dan LG International. Namun, beberapa perusahaan tersebut akan dilelang dan dipilih oleh PT Pupuk Indonesia.

"Bisa Ferrostaal, bisa yang lain tergantung Pupuk Indonesia nanti yang milih," ujar Sigit.

Pembangunan pabrik tersebut diharapkan dapat dimulai pada 2017 dan mulai beroperasi pada 2021. Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$ 1 miliar atau Rp 13,44 triliun dengan kurs Rp 13.440. Tetapi jika hanya membangun pabrik metanol saja, tetapi jika turut membangun industri turunannya seperti polietilen nilai investasinya mencapai US$ 2 miliar atau Rp 26,88 triliun dengan kurs Rp 13.440.

"Bintuni itu tahun 2121 gasnya sudah on stream. Gasnya dari BP tangguh (British petroleum) jadi harus ada investasi masuk yang dimulai bangun 2017 kalau tidak bisa terancam gagal," kata Sigit. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com