Follow detikFinance
Senin 09 Jan 2017, 14:58 WIB

Mendag: Setahun, 300.000 Ton Gula Rafinasi Impor Merembes ke Pasar

Muhammad Idris - detikFinance
Mendag: Setahun, 300.000 Ton Gula Rafinasi Impor Merembes ke Pasar Foto: Ari Saputra
Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, mengaku masih banyaknya perusahaan-perusahaan nakal yang menjual gula refinasi impor ke pasar. Kondisi ini membuat harga gula produksi lokal jatuh cukup dalam.

Enggar memperkirakan, rembesan gula rafinasi impor tersebut mencapai di atas 300.000 ton setiap tahunnya. Padahal gula rafinasi ini adalah untuk industri.

"Rembesan dari industri mamin (makanan dan minuman) ke konsumsi per tahun 200.000-300.000 ton," kata Enggar, ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (9/1/2017).

Atas kasus yang selalu saja berulang itu, sambung Enggar, pihaknya akan melakukan pengetatan dalam pengawasan distribusi gula rafinasi impor. Salah satunya dengan meminta faktur pajak dari penjualan gula rafinasi.

"Untuk itu kami sekarang tahap awal dulu akan atau sudah kontrak dengan industrinya, kedua faktur pajak tahun lalu. Sehingga kita tahu berapa jumlahnya," jelas Enggar.

Dia menilai, rendahnya pendapatan petani bukan hanya karena faktor harga yang jatuh karena rembesan gula rafinasi impor. Namun juga lantaran tingkat rendemen tebu petani yang rendah dari pabrik gula.

"Jadi beberapa hal yang harus dibenahi, pertama adalah rendemennya, kedua tingkat produktivitasnya, sekarang kalau dia (petani) dengan yang PTPN rendemen rendah, petani pendapatannya rendah, maka itu jadi persoalan," jelas Enggar.

Sebagai informasi, rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen. Bila dikatakan rendemen tebu 10%, artinya dari 100 kg tebu yang digilingkan di Pabrik Gula, akan diperoleh gula sebanyak 10 kg.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sumitro Samadikoen, mengungkapkan kekhawatiran adanya rembesan gula rafinasi di pasaran. Hal ini mengakibatkan harga gula di tingkat petani jatuh cukup dalam.

"DPN APTRI memperkirakan rembesan gula rafinasi di musim giling ini mengakibatkan turunnya harga lelang gula tani sebesar Rp 1.000/kg. Total kerugian akibat turunnya harga lelang gula mencapai Rp 700 miliar," kata Soemitro.

Kekhawatirannya cukup beralasan, karena beberapa waktu lalu, Bareskrim Mabes Polri mengungkap adanya kasus perembesan gula rafinasi skala besar yang diduga dilakukan oleh PT Berkah Manis Makmur (PT BMM) melalui PT Lyus Jaya Sentosa dan PT Duta Sugar Internasional (PT DSI).

Ia menambahkan, dari catatan APTRI, rembesan bukan hanya dilakukan oleh dua perusahan tersebut, namun oleh perusahaan gula rafinasi lainnya yang total mencapai 11 perusahaan.

"Total kerugian petani dari penyimpangan 11 perusahaan gula rafinasi (termasuk PT BMM dan PT DSI) mencapai 600.000 ton," ungkap Soemitro. (idr/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed