Follow detikFinance
Rabu 19 Apr 2017, 07:15 WIB

Laporan dari China

Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RI

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikFinance
Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RI Foto: Nograhany Widhi
Changsha - Pada 2011 lalu, produsen alat-alat berat asal China, Sany Group berkomitmen investasi sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun. detikFinance berkesempatan melihat pabrik Sany Group di kantor pusatnya di Changsha, Hunan, China.

Sany Heavy Industry Co terletak di Changsha Industrial Development Zone, Provinsi Hunan, China. Di depan pabrik alat berat itu terdapat ruang pamer yang menceritakan sejarah Sany Group yang dimulai dari pabrik material kecil di 1989.

Sejak 1989 itu, kini Sany Group memproduksi alat-alat berat terutama di bidang konstruksi, antara lain Concrete Pump Truck (alat untuk menyalurkan adonan beton segar dari bawah ke tempat pengecoran yang letaknya sulit dijangkau truck mixer alias truk molen yang tertinggi di dunia (86 meter), ekskavator terbesar di China (tonase 200 ton), crawler crane terbesar di dunia (tonase 3.600 ton), batching plant (mesin pembuat adonan beton), mesin bor, truk tambang, hingga merambah energi terbarukan dengan memproduksi turbin angin.

Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RIFoto: Nograhany Widhi


Beranjak ke pabrik alat-alat berat di belakangnya, pabrik itu terasa 'hijau' dan tidak sumpek. Memiliki langit-langit yang tinggi dengan atap bening di bagian tengahnya, juga ada kolam-kolam air mancur, tanaman-tanaman palem yang memberi kesan hijau hingga bangku-bangku taman dengan desain modern untuk para pekerja kongkow.

Suara besi-besi berat beradu bersahut-sahutan, crane pabrik statis yang berlalu lalang hingga suku cadang alat berat yang tertata rapi dan siap untuk dirakit.

Di China sendiri, Sany Group memiliki beberapa pabrik selain di Changsha yang memproduksi mesin concrete pumping, yakni pabrik ekskavator dan crawler crane di Shanghai dan Xinjiang, pabrik alat penambangan batu bara di Shenyang, pabrik mesin piling, turbin angin hingga alat penambangan migas di Beijing, pabrik crane pelabuhan dan perkapalan di Zhuhai.

Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RIFoto: Nograhany Widhi


Di luar China sendiri, Sany Group berinvestasi US$ 60 juta untuk mendirikan pabrik di India pada 2006, setahun kemudian berinvestasi US$ 60 juta untuk membangun pabrik alat berat di AS, kemudian berinvestasi di US$ 124 juta untuk riset dan pengembangan di Bedburg, North-Rhine Westpalia pada 2009, berinvestasi US$ 200 juta untuk mendirikan pabrik di Brasil pada 2010, hingga mengakuisisi perusahaan alat berat Jerman, Putzmeister, pada 2012.

Kiprah Sany Group di Asia Tenggara dimulai dengan penetrasi pasar di Malaysia, Filipina, dan Singapura pada 2007.

"Kemudian pada 2011 kami masuk ke Indonesia dengan investasi US$ 200 juta," demikian kata Vice President Sany Heavy Industry dan President of International Business, Zhou Wanchun, di kantor pusat Sany Group, 2 kilometer dari pabrikan alat berat di Changsha, Hunan, China, Selasa (18/4/2017).

Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RIFoto: Nograhany Widhi


Zhou menambahkan Indonesia sangat penting karena menjadi pangsa pasar terbesar di Asia Tenggara.

"US$ 200 juta itu untuk mengembangkan pusat logistik kami yang bisa melayani kebutuhan Indonesia, Singapura, dan Malaysia," imbuh Zhou.

Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RIFoto: Nograhany Widhi


Sany Group telah membeli tanah 100.000 meter persegi di kawasan industri Jakarta untuk pembangunan pusat logistik ini. Sedangkan angka penjualan di Indonesia sendiri mencapai nilai US$ 60 juta di 2016 lalu, dengan angka total penjualan sejak 2011 lalu adalah US$ 150 juta. Ada 50 item alat berat yang dijual Sany Group di Indonesia. Investasi Sany Group di Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara, baru kemudian Vietnam.

Zhou pun membagi rahasia mengelola perusahaan yang nyaris berusia 3 dekade ini sehingga bisa menjadi perusahaan multinasional dan berpartisipasi dalam pembangunan landmark dunia termasuk Dubai Tower.

"Kami tak punya hari libur. Minggu pun kami kerja, kami cukup rajin. 5 Tahun terakhir ini kami tak pergi ke mana-mana, sejak 2011. Pernah juga kinerja turun. Di lingkungan ekonomi sekarang, tidak bisa naik terus," tutur Zhou.

Melihat Pabrik Alat Berat China yang Investasi Rp 2,6 T di RIFoto: Nograhany Widhi
(nwk/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed