Follow detikFinance
Kamis 09 Nov 2017, 20:40 WIB

Begini Cara agar Program 35.000 MW Serap Tenaga Kerja Lokal

Dana Aditiasari - detikFinance
Begini Cara agar Program 35.000 MW Serap Tenaga Kerja Lokal ilustrasi PLTU (Foto: Muhammad Idris)
Jakarta - Cirebon Power, Korea Midland Power (Komipo), dan Kementerian Perindustrian meneken nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) tentang kerjasama Pusat Vokasi Pengoperasian dan Pemeliharaan Pembangkit Batubara Bersih.

Penandatanganan MoU ini dilakukan oleh Presiden Direktur Cirebon Power Heru Dewanto, President & CEO Komipo Jang Seong-ik, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar N.

Seremoni tersebut juga disaksikan Menteri Perindustrian, Perdagangan dan Sumber Daya Korea Selatan, dan Kepala Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Nota Kesepahaman Vokasi ini juga merupakan bagian dari penandatanganan 14 MoU dengan Korea Selatan dalam agenda kunjungan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in ke Indonesia.

Kerjasama vokasi perusahaan swasta yang melibatkan pemerintah ini, bertujuan untuk mewujudkan program pusat vokasi operasi dan pemeliharaan pembangkit batubara bersih, serta mendukung pembangunan sistem pembangkit batubara bersih di Indonesia.

Sehingga, dengan kemitraan ini manfaatnya akan berdampak luas bagi masyarakat.

Heru Dewanto, Presiden Direktur Cirebon Power mengatakan, pihaknya berinisiatif menggagas Vocational Centre For Clean Coal Power Operation and Maintenance (O&M) yang pertama di Indonesia dengan menggandeng Komipo dan Kementerian Perindustrian.

"Tujuan pendirian vokasi O&M ini untuk mengantisipasi beroperasinya pembangkit listrik batubara bersih dalam proyek 35 GW," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/11/2017).

Heru berharap, lewat program vokasi ini bisa dicetak tenaga-tenaga terampil dan operator operator andal yang bisa menangkap peluang dari beroperasinya pembangkit-pembangkit listrik dalam mega proyek 35.000 megawatt (MW).

Kedepan, Indonesia akan membangun 117 pembangkit baru. 59% di antaranya mengadopsi teknologi batubara bersih, baik super critical maupun ultra-super critical. Sesuai data RUPTL hingga tahun 2016, sebanyak 50% dari program pembangkit listrik 77,8 GW adalah berbasis batu bara. Penggunaan teknologi batu bara bersih adalah keniscayaan.

Untuk tahap awal, pusat vokasi O&M teknologi batubara bersih ini akan merekrut sebanyak 100 peserta dari Cirebon dan sekitarnya melalui seleksi terbuka. Ke depannya, program vokasi ini bisa saja ditingkatkan menjadi politeknik.

"Awal tahun depan, pusat vokasi ini mulai beroperasi," ungkap Heru.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar N, menambahkan, dibukanya program vokasi ketenagalistrikan untuk operasi dan pemeliharaan PLTU batubara bersih yang digagas oleh Cirebon Power tentunya berdampak positif khususnya bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Namun juga bermanfaat bagi pembangkit listrik batubara bersih di daerah lainnya.

"Untuk pendanaannya ditanggung ketiga pihak sesuai dengan tanggung jawab dan perannya masing-masing," jelas Haris.

Dalam kerjasama ini, pihak Cirebon Power akan menyediakan sarana dan prasarana, operasional, serta peserta program vokasi. Kemudian, melaksanakan program praktik kerja industri dan pemagangan peserta, memfasilitasi proses sertifikasi, dan memfasilitasi penempatan lulusan program vokasi.

Sedangkan, Komipo akan bertanggungjawab dalam menyiapkan kurikulum dan modul pelatihan, instruktur serta peralatan pelatihan. Komipo merupakan salah satu perusaan listrik terbesar di Korea Selatan yang berhasil dalam mengembangkan clean coal power plant.

Adapun Kementerian Perindustrian bertugas dan bertanggungjawab antara lain memfasilitasi pembangunan infrastruktur kompetensi antara lain asesor kompetensi, dan sertifikasi kompetensi. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed