Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 24 Okt 2019 15:02 WIB

Dibayangi Rugi 737 Max, Boeing Cetak Untung Rp 12,5 T

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta -

Perusahaan pembuat pesawat, Boeing, berhasil memperoleh laba US$ 895 juta (sekitar Rp 12,53 triliun) pada kuartal ketiga ini. Meski demikian, keuntungan yang berhasil diperoleh Boeing pada kuartal tiga ini turun jika dibandingkan dengan pendapatannya tahun lalu sebesar US$ 1,9 miliar (sekitar Rp 26,6 triliun).

Melansir CNN, Kamis (24/10/2019), Boeing mengamankan keuntungannya berkat bisnisnya di sektor pertahanan dan luar angkasa, meskipun sektor pesawat komersial miliknya terus membukukan kerugian lain.

Boeing berhasil bangkit kembali setelah sempat mengalami kerugian sebesar US$ 3,7 miliar (sekitar Rp 51,8 triliun) pada kuartal sebelumnya. Kerugian ini disebabkan grounding-nya pesawat 737 Max sejak Maret kemarin, setelah sebelumnya dua pesawat dengan seri ini mengalami kecelakaan fatal yang menewaskan 346 orang. Grounding menelan dana Boeing sebesar US$ 5 miliar (sekitar Rp 70 triliun).



Meski demikian, Boeing mengatakan bahwa mereka masih bekerja di bawah asumsi kalau 737 Max akan mendapatkan persetujuan untuk kembali ke layanan sebelum akhir tahun ini. CEO Boeing Dennis Muilenburg bersikeras bahwa Boeing terus membuat kemajuan dalam pengembangan pesawat (seri 737 Max) agar dapat kembali ke layanan, meski dia sendiri juga mengakui masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

"Dalam waktu dekat (kembali beroperasi), kami melakukan langkah-langkah teknis dan itu termasuk menyelesaikan perangkat lunak," Kata Denis.

Selain 737 Max, Boeing juga harus menghadapi masalah pada produksi pesawat seri 787. Perusahaan tersebut telah menyampaikan kalau mereka akan memangkas tingkat produksi pesawat 787 dikarenakan kurangnya permintaan. Padahal, sejak awal tahun ini, Boeing sempat meningkatkan kapasitas produksi pesawat 787 sebanyak 14 unit per bulannya. Namun produksi pesawat 787 telah dipangkas menjadi sekitar 12 unit per bulannya.

"Tapi mengingat timeline (jadwal aktivitas perusahaan) dan fakta bahwa kami tidak memiliki pesanan tegas dari Tiongkok pada saat ini, kami harus membuat keputusan (untuk memperlambat produksi) pada seri 787," jelas Denis.



Simak Video "KNKT 'Wanti-wanti' Lion Air hingga Boeing Cegah Kecelakaan"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com