Kaleidoskop 2019

RI Mulai 'Angkat Senjata' Lawan Diskriminasi Sawit di Uni Eropa

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 29 Des 2019 13:20 WIB
Foto: detik

1. RI Ajak Malaysia dan Afrika Lawan Kampanye Hitam Sawit di Uni Eropa

Diskriminasi kelapa sawit berupa kampanye hitam di Uni Eropa tak hanya menerpa Indonesia, tapi juga Malaysia. Tekanan Uni Eropa atas sawit Indonesia dan Malaysia selama bertahun-tahun akhirnya melahirkan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) atau Dewan Negara Produsen Sawit pada tahun 2015.

Perjuangan Indonesia dengan Malaysia terus bergulir. Lalu, pada April 2019, Presiden Joko Widodo (Jokowi) DAN Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad resmi melayangkan surat keberatan ke Uni Eropa. Adapun poin yang ditekankan yakni sebanyak 27 juta orang bergantung hidupnya pada kelapa sawit.

Selain itu, Indonesia juga mengajak negara-negara Afrika seperti Nigeria untuk bisa bergabung dalam aksi melawan diskriminasi sawit.

"Kan Afrika juga, Nigeria produksi kelapa sawit, kita harus melawan ramai-ramai diskriminasi yang dibuat oleh Uni Eropa tadi, karena saya jelaskan itu tidak adil juga. Jadi kita harus bersama-sama melawan itu. Spirit Asia-Afrika," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman periode 2016-2019, Luhut Binsar Pandjaitan Luhut di sela acara Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8/2019).

Luhut mengaku telah melakukan pertemuan dengan Nigeria untuk membahas hal tersebut. Dia bilang akan mendorong negara-negara Afrika untuk ikut bergabung bersama Indonesia dalam melawan kasus ini.

"Kan kemarin saat di Vatikan mereka datang, jadi kita tinggal dorong saja. Saya kira mereka sangat suka dengan kita," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5 6


Simak Video "Ibu yang Curi 3 Tandan Sawit di Rohul Minta Maaf"
[Gambas:Video 20detik]