Vaksin Corona Dianggap Jadi Penentu Pulihnya Ekonomi Dunia

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 02 Des 2020 22:49 WIB
Illustrative picture of covid-19 coronavirus vaccine vial
Foto: Getty Images/iStockphoto/Manjurul
Jakarta -

Kelancaran distribusi vaksin Corona (COVID-19) dianggap menjadi penentu pemulihan ekonomi dunia. Menurut Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) jika terjadi penundaan distribusi vaksin, maka dapat berisiko besar bagi pemulihan ekonomi.

"Mungkin penundaan (vaksinasi) yang untuk saat ini, belum jelas. Penundaan vaksinasi bisa menjadi risiko jika itu terjadi, tapi saya tidak mengharapkannya sesuai dengan informasi yang kami miliki," kata Gubernur Bank Sentral Yunani yang juga anggota ECB, Yannis Stournaras dikutip dari CNBC, Rabu (2/12/2020).

Tiga uji coba vaksin secara terpisah telah merilis data yang menjanjikan yakni distribusi vaksin pada November, dengan suntikan dari Pfizer-BioNTech dan Moderna menunjukkan tingkat kemanjuran di atas 90%. Perkembangan ini mendorong pasar keuangan dan mendukung gagasan bahwa pandemi dan krisis ekonomi mungkin akan berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.

Namun, mendistribusikan vaksin ke seluruh dunia sambil memastikan kondisi pengawetan adalah tantangan besar selanjutnya dalam menangani keadaan darurat COVID-19.

Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui vaksin Pfizer-BioNTech dengan imunisasi yang jatuh tempo minggu depan. European Medicines Agency mengatakan bahwa mereka akan memberikan pendapatnya tentang pekerjaan Pfizer-BioNTech hanya pada tanggal 29 Desember. Ini menunjukkan bahwa vaksinasi di benua Eropa tidak mungkin dimulai sebelum akhir tahun.

Dalam catatan yang diterbitkan minggu lalu, para peneliti Goldman Sachs merinci bagaimana vaksin dapat merangsang pemulihan ekonomi, tetapi juga menyoroti beberapa risiko penurunan.

"Skenario ini menunjukkan vaksinasi yang lebih lambat di Eropa, yang lebih bergantung pada pengembang ini (AstraZeneca, Johnson & Johnson), tetapi juga vaksinasi jangka menengah yang lebih sedikit di tempat lain karena permintaan yang lebih lemah, yang tampaknya paling rapuh di AS dan Jepang," kata para peneliti.

(hns/hns)