Rencana Investasi Tesla di RI Bikin Penasaran, Jadi Enggak Sih?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 25 Feb 2021 06:00 WIB
CEO Tesla Elon Musk melanggar aturan lockdown dengan membuka kembali pabrik Tesla di Fremont, California, AS. Area parkir pabrik Tesla yang penuh dengan mobil baru.
Foto: AP Photo/Ben Margot
Jakarta -

Rencana investasi perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla masih tanda tanya hingga saat ini. Terlebih, setelah muncul kabar jika Tesla memutuskan investasi di India.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia kembali menyatakan jika negosiasi dengan produsen mobil listrik Amerika Serikat (AS) Tesla masih jalan. Hal itu sekaligus menepis kabar jika Tesla batal investasi ke Indonesia.

Bahlil menekankan, batal masuk ke Indonesia itu jika ada keputusan.

"Kalau Tesla itu kan masih dalam negosiasi, kalau gagal itu kalau udah ada keputusan, ini kan masih nego," katanya dalam webinar, Rabu (24/2/2021).

Baginya, peluang itu harus diciptakan dan tidak boleh pesimis untuk menarik investasi. "Pengusaha itu udah nggak peluang pun harus ciptakan peluang, jadi nggak boleh pesimis, selalu harus terbuka," ujarnya.

Menurutnya hal yang biasa jika negosiasi mengalami pasang surut. Namun yang jelas, negosiasi dengan produsen mobil listrik milik Elon Musk itu masih berjalan.

"Jadi kalau orang dalam bernegosiasi bisnis, deal-deal-an itu biasa lah pasang surut itu. Dunia belum berakhir, jangan pesimis, barang ini masih jalan terus. Sama lah dengan saya bagaimana melakukan negosiasi dengan LG. Itu juga kan pasang surutnya tinggi juga, satu tahun lebih baru clear," paparnya.

Mau Bangun Powerbank Raksasa

Sebelumnya, Tesla dikabarkan menyatakan minat untuk menanamkan modalnya di Tanah Air. Kabar terakhir yang berkembang Tesla lebih tertarik investasi di sektor Energy Storage System (ESS) atau sistem penyimpanan energi.

Seperti dikutip dari CNBC Indonesia, ESS sendiri bekerja seperti 'power bank' yang menyimpan listrik dengan skala besar hingga ratusan mega watt (MW) dan bisa sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Hal tersebut diungkapkan Septian Hario Seto, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi dan juga Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana Wirakusumah.

"Dengan Tesla, kita juga sedang dalam tahap negosiasi. Tesla baru belakangan masuk (menyatakan minat). Kita lagi pelajari dia mau masuknya ke mana. Dari pembicaraan kemarin, mereka sepertinya mau masuk ke ESS," ungkap Agus Tjahajana.

"Mereka sampaikan pada kita bahwa mereka dari sisi permintaan dengan negara lain sudah sangat tinggi, tapi suplai ESS tidak banyak. Mau kerja sama dengan Indonesia dengan negara kepulauan potensi EBT mereka bisa kombinasikan teknologi ESS di Indonesia," jelasnya.

Lihat Video: Langkah Jokowi Pepet Investasi ke Elon Musk

[Gambas:Video 20detik]



(acd/zlf)