Ekspor Baja RI Rp 490 Triliun, Masih Kalah dari Malaysia dan Vietnam

Ekspor Baja RI Rp 490 Triliun, Masih Kalah dari Malaysia dan Vietnam

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 04 Feb 2026 13:55 WIB
Ekspor Baja RI Rp 490 Triliun, Masih Kalah dari Malaysia dan Vietnam
Industri Baja RI/Foto: Dok. Krakatau Posco
Jakarta -

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan saat ini Indonesia menjadi salah satu eksportir besi dan baja terbesar di Asia Tenggara, setelah Malaysia dan Vietnam. Di mana total ekspor baja nasional mencapai US$ 29,23 miliar atau Rp 490,24 pada 2024 kemarin.

"Ekspor industri baja nasional Indonesia juga menunjukkan kinerja yang kuat dan semakin terintegrasi dengan rantai perdagangan global dengan total nilai ekspor mencapai US$ 29,23 miliar pada tahun 2024," ucapnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).

"Indonesia menempati posisi sebagai salah satu eksportir baja terbesar di Asia Tenggara setelah Malaysia dan Vietnam," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Capaian ini sebagian besar ditopang oleh peningkatan ekspor ke sejumlah negara di Asia Pasifik, terutama China yang menjadi pasar utama baja Indonesia. Baru setelah itu Taiwan, India, Australia, dan Vietnam yang menjadi negara tujuan terbesar lainnya.

"Struktur pasar ekspor baja Indonesia didominasi oleh kawasan Asia Pasifik, dimana lima negara yang meliputi China dengan pasar terbesar sebesar US$ 16,11 miliar, lalu Taiwan, India, Australia, dan Vietnam," ungkap Faisol.

ADVERTISEMENT

Di luar itu, Faisol melaporkan per 2025 kemarin Indonesia berhasil menempati peringkat ke-13 sebagai negara penghasil baja kasar di dunia. Di mana sepanjang 2025 lalu total produksi baja kasar nasional mencapai 19 juta ton, naik tipis jika dibandingkan tahun 2024 sebesar 18,6 juta ton.

Sementara struktur konsumsi baja dalam negeri Indonesia masih didominasi oleh sektor konstruksi dengan penyerapan capai 77,1% dari total konsumsi baja nasional. Setelahnya ada sektor otomotif menempati yang posisi kedua penyerap produk baja terbesar dengan kontribusinya mencapai 11,6%; di susul pada sektor peralatan rumah tangga sebesar 3,3%.

"Ini berarti bahwa industri baja kita sangat tergantung kepada pembangunan infrastruktur dan properti sebagai penggerak utama permintaan baja," terang Faisol.

Meski begitu, menurutnya tingkat konsumsi atau penyerapan baja domestik ini relatif masih sangat rendah. Sebab tingkat konsumsi baja per kapita Indonesia pada 2025 lalu masih di kisaran 60 kilogram per kapita.

Angka ini jauh di bawah rata-rata global yaitu 217 kilogram per kapita. Tertinggal jauh dari produsen-produsen utama industri di Asia seperti Korea, China, dan Jepang.

"Begitupun dengan yutilisasi industri baja nasional rata-rata mencapai 52,7%. Ini mengindikasikan bahwa potensi ekspansi dan peningkatan yang signifikan masih tersedia ruang yang sangat besar," paparnya.

Simak juga Video: Zulhas Bicara Tingkatkan Sinergi Besi dan Baja Lewat Forum IISIA

(igo/fdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads