Kondisi Ekspor Sawit RI di Tengah Dampak Buruk Perang Timur Tengah

Kondisi Ekspor Sawit RI di Tengah Dampak Buruk Perang Timur Tengah

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 12 Mar 2026 09:00 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160
Ilustrasi.Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Dampak perang di timur tengah terasa ke perdagangan minyak sawit Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan ekspor produk sawit ke beberapa negara mulai terganggu imbas melonjaknya biaya logistik dan risiko pengiriman.

Meski begitu, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan ekspor sawit Indonesia masih terus berjalan.

"Dengan perang ini, kondisi global seperti ini, kita bersyukur sawit ekspornya masih jalan. Walaupun terjadi kenaikan biaya yang luar biasa, kenaikan biaya logistik dengan asuransi itu 50% kira-kira kenaikan. Tetapi kita harus jujur juga dengan kenaikan ini terjadi sedikit penurunan permintaan. Nah kenapa demikian? Karena biayanya kan jadi tinggi," kata Eddy di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan permintaan tersebut terutama terjadi pada kontrak baru. Sementara pengiriman yang masih berjalan saat ini umumnya merupakan kontrak yang sudah lebih dulu ditandatangani.

ADVERTISEMENT

GAPKI juga mencatat ekspor sawit ke beberapa negara yang harus melewati Selat Hormuz untuk sementara mengalami gangguan. Pengiriman ke Uni Emirat Arab dan Iran misalnya dilaporkan sempat berhenti sementara.

Meski demikian, Eddy menyebut kontribusi ekspor sawit Indonesia ke kawasan tersebut relatif kecil. Total ekspor ke Timur Tengah tercatat sekitar 1,8 juta ton, jauh lebih kecil dibandingkan pasar utama seperti India dan China.

Ekspor sawit Indonesia ke India, China, hingga Amerika Serikat (AS) masih terus berlangsung. Saat ini perdagangan masih berjalan, meski sebagian kapal harus mengambil rute lebih panjang untuk menghindari wilayah konflik, misalnya melalui Afrika Selatan.

"Kalau yang sudah pasti sulit itu yang melewati Salat Hormuz, sudah pasti. Sudah itu berhenti sementara, itu Uni Emirat Arab, Iran, itu berhenti. Tapi memang itu kecil ya. Untuk angka ekspornya tidak besar kecil. Tetapi kalau yang lain, itu Arab Saudi masih jalan, masih bisa. Kemudian India masih jalan. China sebagai importir terbesar kita masih jalan," jelas Eddy.

Eddy menambahkan, dampak perang di Timur Tengah terhadap volume ekspor belum terlihat signifikan karena baru berlangsung sekitar sepekan. Perkiraan penurunan permintaan baru bisa terlihat lebih jelas menjelang akhir bulan.

"Itu memang belum kelihatan. Tapi kok yang misalnya kok ini belum ada permintaan lagi kan, baru ada indikasi seperti itu. Tetapi persentasenya belum, karena baru seminggu kan. Mungkin akan ketahuan nanti kalau sudah sampai dengan akhir bulan ini, bulan Maret ini, kira-kira penurunannya berapa persen," terang Eddy.

Tonton juga video "Prabowo: Sawit Miracle Crop"

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads