Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Teriak Harga Bahan Baku Plastik Meroket

Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Teriak Harga Bahan Baku Plastik Meroket

Retno Ayuningrum - detikFinance
Rabu, 08 Apr 2026 11:55 WIB
Ilustrasi Air Mineral di Mobil
Ilustrasi/Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (AMDATARA) menyampaikan harga bahan baku kemasan plastik yang berbasis minyak bumi dilaporkan meroket hingga 100%. Kenaikan ini dipicu oleh gejolak harga energi imbas perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran sejak akhir Februari 2026.

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo memperkirakan kondisi ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, namun juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman bagi kesehatan publik.

"Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri air minum dalam kemasan (AMDK) akibat lonjakan harga bahan baku kemasan, terutama plastik yang berbasis minyak bumi," ujar Karyanto dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menuturkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam dari sekitar US$ 67 per barel menjadi US$ 98 per barel pada pertengahan Maret 2026. Sementara itu, lanjutnya, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa melesat lebih dari 60% dalam periode yang sama.

ADVERTISEMENT

"Karena lebih dari 99% plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas alam), kenaikan harga energi ini langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik," terangnya.

Pihaknya memperkirakan lonjakan harga bahan baku hingga 100% ini berpotensi mendorong kenaikan harga kemasan jadi sekitar 25-50%, tergantung pada jenis material, volume produksi, dan skala usaha masing-masing perusahaan. Jika kondisi ini berlanjut, Karyanto mengatakan harga jual produk AMDK di pasar berisiko mengalami kenaikan, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki stok terbatas dan likuiditas yang lebih rendah.

"Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman yang selama ini menjadi kontribusi penting industri AMDK bagi kesehatan publik," tambah ia.

Dia mengungkapkan berdasarkan laporan langsung dari anggota asosiasi di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan pada beberapa jenis material telah mencapai hingga 100% dalam waktu relatif singkat. Menurut Karyanto, kenaikan harga bahan baku kemasan yang mencapai dua kali lipat ini tidak lagi bisa dianggap sebagai fluktuasi biasa.

"Ini merupakan tekanan struktural yang secara langsung memukul daya tahan industri, terutama di saat pelaku usaha tetap berupaya menjaga keterjangkauan harga produk bagi masyarakat," jelasnya.

Ia membeberkan saat ini terdapat 707 pabrik dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung. Industri AMDK ini juga mendukung jutaan pekerja di sepanjang rantai pasok distribusi serta berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman.

Ia menilai memainkan peran strategis dalam kesehatan masyarakat dengan menyediakan akses air minum yang aman, higienis, dan berkualitas, sehingga membantu mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui air tidak bersih.

Oleh karena itu, lanjutnya, pihaknya berharap pemerintah bersedia hadir secara aktif sebagai penyangga (shock absorber) bagi industri strategis seperti AMDK melalui langkah-langkah konkret. Ia pun meminta agar pemerintah memberikan relaksasi kebijakan sebesar 20-30% pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi, seperti penurunan sementara PPN kemasan dari 11% menjadi 8%, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping/BMAD, serta stimulus pajak penghasilan untuk UMKM di sektor AMDK.

"Insentif yang kami minta ini bukanlah privilese, melainkan penopang agar industri tetap dapat berjalan, tenaga kerja terlindungi, pasokan produk ke masyarakat tetap terjaga, dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu," tambahnya.

Lihat juga Video 'Harga Plastik Naik Drastis, Pedagang Menjerit-Pembeli Meringis':

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads