Pengusaha Kawasan Industri Ungkap Pemadaman Listrik Bisa Ganggu Produksi

Pengusaha Kawasan Industri Ungkap Pemadaman Listrik Bisa Ganggu Produksi

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 22 Jun 2026 15:07 WIB
Ilustrasi Bayar Listrik
Ilustrasi/Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan. Keandalan listrik tidak lagi sekadar urusan pelayanan publik, melainkan telah menjadi fondasi utama daya saing ekonomi nasional.

HKI yang saat ini menaungi lebih dari 170 kawasan industri yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga kawasan timur Indonesia, merasakan secara langsung betapa vitalnya pasokan listrik bagi keberlangsungan aktivitas industri. Kawasan-kawasan tersebut menjadi rumah bagi ribuan perusahaan nasional maupun multinasional yang bergerak di sektor manufaktur, petrokimia, logistik, makanan dan minuman, elektronik, otomotif, mineral, pusat data, hingga industri berteknologi tinggi.

Ketua Umum HKI Indonesia, Akhmad Ma'ruf Maulana, menyampaikan bahwa setiap gangguan listrik, meskipun hanya berlangsung beberapa menit, dapat menimbulkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peristiwa pemadaman yang terjadi belakangan ini harus dilihat sebagai alarm penting bahwa sistem kelistrikan nasional memerlukan lapisan pengaman yang lebih kuat. Ketahanan energi nasional tidak cukup hanya mengandalkan satu sistem yang terpusat. Dibutuhkan lebih banyak titik-titik keandalan yang dapat saling menopang ketika terjadi gangguan," ujar Ma'ruf dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).

ADVERTISEMENT

Dalam industri modern, proses produksi berlangsung secara terintegrasi dan berkesinambungan. Ketika listrik terputus, bukan hanya mesin yang berhenti bekerja, sistem produksi dapat terganggu, bahan baku rusak, produk gagal diproses, jadwal pengiriman tertunda, rantai pasok terganggu, hingga muncul biaya tambahan yang harus ditanggung pelaku usaha untuk menjalankan sistem cadangan.

Pada industri tertentu seperti petrokimia, baja, semikonduktor, pusat data, farmasi, maupun industri berbasis proses berkelanjutan, gangguan listrik bahkan dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar karena memerlukan waktu panjang untuk mengembalikan operasi ke kondisi normal.

Menurut HKI, tantangan tersebut akan semakin besar seiring masuknya investasi-investasi baru yang membutuhkan tingkat keandalan listrik sangat tinggi. Saat ini Indonesia sedang mendorong hilirisasi mineral hingga industri kecerdasan buatan (AI) yang seluruhnya membutuhkan pasokan energi yang stabil.

Pembangkit Listrik Sendiri

HKI menilai salah satu langkah yang perlu segera didorong adalah memberikan kemudahan bagi kawasan industri untuk memperoleh Wilayah Usaha Ketenagalistrikan (WILUS) dan membangun pembangkit listrik sendiri sesuai kebutuhan kawasan masing-masing.

Menurut Ma'ruf, banyak kawasan industri di Indonesia yang sebenarnya memiliki kemampuan finansial, kesiapan teknis, serta kebutuhan riil untuk mengembangkan sistem ketenagalistrikan mandiri yang terintegrasi dengan jaringan nasional. Namun hal itu terkendala proses perizinan dan regulasi.

"Kami berharap pemerintah memberikan kemudahan bagi kawasan industri yang ingin memiliki Wilayah Usaha Ketenagalistrikan sendiri. Industri membutuhkan kepastian. Ketika investasi sudah masuk, pabrik sudah berdiri, dan ribuan tenaga kerja bergantung pada aktivitas produksi, maka pasokan energi harus memiliki tingkat kepastian yang setara," sebut dia.

HKI menegaskan bahwa usulan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengurangi peran PLN. Sebaliknya, HKI memandang PLN tetap menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional yang memiliki peran sangat strategis dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Dalam model tersebut, PLN tetap menjadi backbone jaringan nasional, sementara kawasan industri dapat berperan sebagai mitra strategis melalui pengembangan pembangkit mandiri, microgrid industri, captive power, sistem penyimpanan energi (battery storage), maupun energi terbarukan yang terhubung dan terintegrasi dengan sistem nasional.

Model serupa telah diterapkan di berbagai negara industri maju. Kawasan industri dan pusat manufaktur diberi ruang untuk membangun sistem energi sendiri yang tetap terhubung dengan jaringan utama. Ketika terjadi gangguan pada salah satu sistem, sistem lainnya dapat menjadi cadangan sehingga risiko pemadaman dapat diminimalkan.

Halaman 2 dari 2
(ily/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads