Follow detikFinance
Rabu, 17 Jan 2018 22:28 WIB

Sandi Paparkan Proyek Jalan Tol Bawah Tanah di DKI Rp 39 T

Mochamad Zhacky - detikFinance
Foto: Danang Sugianto/detikFinance Foto: Danang Sugianto/detikFinance
Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, memaparkan soal rencana proyek jalan tol bawah tanah. Proyek ini merupakan kerja sama PT Antaredja Mulia Jaya dengan PT Jakarta Tollroad Development (JTD).

PT JTD menggarap proyek 6 ruas tol dalam kota DKI Jakarta telah dimulai sejak Februari 2017 lalu. Enam ruas tol dengan total panjang 69,77 km diperkirakan baru akan rampung pada tahun 2022 mendatang.

"Proyek tunnel terpadu yang akan menanam US$ 3 miliar atau Rp 39 triliun di wilayah Jakarta yang akan menyambungkan 2 fase daripada 2 section dari enam ruas tol dalam kota. Ini sudah kami laporkan tadi, ada progress yaitu sudah tercapai kesepakatan awal dengan PT Jakarta tol Development yang punya konsesi 6 ruas jalan tol," kata Sandiaga, di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (17/1/2018).


Untuk fase 2 ini akan dibangun dua ruas jalan tol. Rutenya dari Duri Pulo-Kampung Melayu sepanjang 12,65 km, kemudian dari Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,6 km.

"Jadi, 2 ruas dibangun di bawah tanah dengan kedalaman 7-15 meter, dan itu akan digunakan untuk transportasi kendaraan sebagai jalan tol, untuk air, pembangkit energi, dan utilitas kabel listrik," terang Sandiaga.


Menurut Sandiaga yang menarik dari proyek jalan tol bawah tanah ini yakni tidak menggunakan APBD DKI. Sandi berharap proyek tersebut dapat menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong laju investasi di DKI Jakarta.

"Ini menarik karena US$ 3 miliar yang dikucurkan proyek ini tanpa APBD, feasibility study dilakukan oleh swasta. Dengan kerja sama ini kita harapkan bisa mengurai kemacetan, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan investasi, atasi masalah banjir, menambah energi di wilayah Jakarta," papar pria yang akrab disapai Sandi itu.


Sementara itu, Komisaris Utama PT Antaredja Mulia Jaya, Wibosono, mengatakan Pemprov DKI diuntungkan dengan adanya proyek tersebut. Untuk pendanaannya didapat dari jasa penyedia keuangan asal Amerika Serikat.

"Pemprov diuntungkan karena tidak perlu mengeluarkan anggaran pembangunan atau pemeliharaan selama 45 tahun. Setelah itu jadi milik Pemprov DKI. Kami telah mendapatkan pendanaan dari Ryan Project funding Amerika Serikat sesuai yang dibutuhkan yakni sekitar 3 billion dollar atau sekitar Rp 40 triliun," ungkap Wibisono, di Balai Kota. (zak/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed