Follow detikFinance
Minggu 19 Nov 2017, 18:22 WIB

Krakatau Steel Pasok 200.000 Ton Baja untuk Tol Japek Layang

Dana Aditiasari - detikFinance
Krakatau Steel Pasok 200.000 Ton Baja untuk Tol Japek Layang Foto: Dok. Jasa Marga
Jakarta - Pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek Elevated (Layang) terus dikebut guna mengurangi macet parah yang kerap terjadi di ruas jalan tol tersebut. Saat ini prosesnya mulai memasuki pemasangan rangka beton.

Guna membangun jalan tol layang ini, seluruh industri dalam negeri dioptimalkan, salah satunya dalam penggunaan baja produksi PT Krakatau Steel (Persero).

"Untuk kebutuhan pembangunan jalan saat ini PT KS tengah memasok untuk membangun jalan tol layang Jakarta-Cikampek II sepanjang 37 KM. totalnya akan dibutuhkan 200.000 ton baja plate," kata Direktur Utama Krakatau Steel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi dalam keterangan tertulis, Minggu (18/11/2017).

Mas Wig mengatakan, baja yang digunakan dalam konstruksi jalan tol layang ini adalah baja yang diproduksi dengan teknologi terbaru yang diharapkan bisa mempercepat proses pembangunan.

"Jalan tol layanga ini menggunakan gelagar baja (steel box girder) yang berbeda teknologinya dengan menggunakan beton. Menggunakan
metode gelagar baja akan mengurangi jumlah tiang, dengan begitu pekerjaan akan lebih cepat selesai," imbuh Mas Wig.

Selain itu PT KS juga memasok kebutuhan pelat baja untuk pembangunan Light Sea Vessel (LSV) buatan PT PAL Surabaya yang dipersan oleh Filipina.

Dalam hal ketenagalistrikan, saat ini juga tengah memasok baja profil siku untuk pembangunan jaringan 46.000 KMS milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Untuk transportasi produk baja KS digunakan untuk membangun gerbong, halte, body dan suku cadang otomotif. Sementara konstruksi jalan, rail guidem rambu-rambu, penerangan dalam, dan jembatan juga menggunakan produk baja. Untuk pengairan jelas pipa baja dibutuhkan untuk distribusi.

Tak haya itu saja, pipa minyak gas dan bumi, boiler, kilang minyak, tabung gas LPG juga banyak yang telah menggunakan produk baja PT KS sebagai bahan bakunya. Terkahir produk baja juga diandalkan untuk mendirikan menara BTS untuk kebutuhan Telekomunikasi dan Informatika.

Gencarnya pembangunan infrastrukutur tersebut dipandang sebagai angin segar bagi industri baja. Hal itu tercermin dari konsumsi baja nasional yang terus meningkat 8,01% seiring dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,1% di tahun 2016.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat meskipun kondisi ekonomi global mengalami penurunan.

Potensi kenaikan harga baja mulai terlihat di tahun 2017. Menurut Macquire, Commodities, Copendum di Januari 2017 menyatakan kelebihan kapasitas baja global akan menurun, mengikuti pengurangan produksi baja di Tiongkok.

Hal ini mengakibatkan kenaikan harga baja sejak awal 2016 terus berlanjut mendekati harga di tahun 2014, yakni sekitar US$ 500 per ton HRC.

Propduk HRC Perseroan masih mendominasi pasar baja domestic dengan pangsaokupansi pasar sebesar 44%. Sementara produk CRC sebesar 28% dan Wire Rod sebesar 9%.

Perbaikan situasi pasar baja ini berdampak pada meningkatnya volume penjualan Perseroan sebesar 15,25%. Selain itu, dukungan pemerintah dalam mendorong potensi industri baja nasional. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed