Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 21 Jun 2019 20:20 WIB

Dampak Positif Penerbangan Pindah ke Bandara Kertajati dari Husein

Uji Sukma Medianti - detikFinance
Foto: KEMENHUB BKIP Foto: KEMENHUB BKIP
Jakarta - Seluruh penerbangan domestik jet komersial dari Bandara Husein Sastranegara pindah ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Jawa Barat paling lambat 1 Juli 2019 mendatang. Perpindahan penerbangan tersebut dinilai akan memiliki dampak positif.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) yang juga Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM Agus Taufik Mulyono menilai dampak positif yang akan terjadi dapat dilihat dari berbagai sisi. Baik untuk kawasan sekitar Bandung, sekitar Majalengka dan Cirebon, maupun untuk masyarakat Jawa Barat secara umum.

"Dengan pemindahan ini, beban pelayanan penerbangan itu dibagi, sehingga tidak berat di satu titik. Sama halnya dengan pembangunan bandara internasional Yogyakarta di Pulon Krogo yang meringankan beban Bandara Adisucipto," tutur Agus dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (21/6/2019).

Di sisi lain, Agus menilai Bandara Husein juga memiliki banyak keterbatasan untuk dikembangkan lagi menjadi bandara yang lebih besar, di antaranya, keterbatasan fasilitas runway yang apabila diperluas akan terkendala masalah pemindahan hunian permanen dan gedung-gedung di sekitar bandara.


Dampak positif lainnya yang akan terjadi adalah pemerataan pengembangan wilayah di Jawa Barat. Untuk dapat mengembangkan wilayah Jawa Barat yang luas, tak bisa hanya bertumpu pada satu simpul. Saat ini, penarik dan simpul utama Jawa Barat masih berada di Bandung. Jika dibiarkan, kata Agus, maka di Jawa Barat hanya bagian selatan dan barat saja yang maju, sementara bagian timur dan utara mati.

"Dengan dipindahnya penerbangan domestik ke Kertajati, diharapkan muncul berbagai simpul wilayah yang berkembang, seperti Kertajati, Cirebon, Kertapati, dan Patimban. Jadi Jabar berkembang itu bukan hanya milik masyarakat Bandung dan sekitarnya. Ini kita bicara mengenai keseimbangan pertumbuhan wilayah" ujar Agus.

Wilayah di sekitar Majalengka memiliki banyak potensi untuk berkembang. Dengan tersedianya akses transportasi udara di kawasan tersebut, maka wilayah ini berpotensi menjadi simpul utama baru kawasan Jawa Barat.

Agus pun meyakini bahwa Bandung tak akan sepi meski penerbangan dipindahkan. Pasalnya Bandung sudah sangat mudah diakses dari berbagai wilayah. Apalagi jika sudah tersedia jalur kereta cepat menuju Bandung dari Jakarta, serta sudah adanya tol Cipularang, akses dari dan menuju Bandung sudah lebih banyak. Meski begitu, Agus juga menekankan bahwa pemerintah berkewajiban menyediakan angkutan umum sebagai akses masyarakat Bandung menuju bandara Kertajati.

"Angkutan umum seperti bus atau komuter itu harus ada, tidak bisa ditawar, harus ditentukan pos-pos mana saja, misalnya ada 5 pos yang dijadikan titik pengangkutan masyarakat Bandung dan sekitarnya menuju Bandara Kertajati. Kita mendorong pemerintah juga untuk mengintegrasikan berbagai akses menuju bandara" pungkasnya.

Sementara itu, General Manager Damri Cabang Bandung Mursalim menjelaskan, pihak Damri sudah siap untuk menambah rute keberangkatan serta unit mobil dari dan menuju Bandara Kertajati. Menurutnya, saat ini sudah ada 2 unit Damri yang beroperasi dari Cirebon menuju Bandara Kertajati dan sebaliknya.


Pada 1 Juli mendatang, rute dan unit ini akan ditambah menjadi total 20 unit Damri yang akan melayani keberangkatan dari Bandara Kertajati menuju Cikarang, Kuningan, Bandung, dan Cirebon. Sehingga di masing-masing daerah itu akan tersedia 5 unit mobil Damri.

"Saat ini kami sedang berkomunikasi dengan pihak Bandara Kertajati mengenai jadwal penerbangan sehingga bisa kami sesuaikan dengan jadwal operasi Damri dari dan menuju bandara," ujar Mursalim.

Nantinya selepas dipindah, Bandara Husein hanya akan melayani 62 penerbangan yang terdiri atas rute internasional dan penerbangan domestik Jawa menggunakan pesawat jenis propeller (baling-baling).

Sedangkan Bandara Kertajati akan melayani 56 penerbangan yang terdiri atas 28 take-off dan 28 landing dari 13 rute domestik, di antaranya Surabaya, Banjarmasin, Medan, Ujung Pandang, Palembang, Balikpapan, Lombok, dan Pontianak.

Nantinya, empat rute dengan 20 unit mobil ini akan beroperasi secara rutin setiap hari. Rencananya, keberangkatan paling dini akan dibuat pukul 02.00 dini hari menyesuaikan jadwal penerbangan bandara agar akses para penumpang dapat tetap difasilitasi. Menurut Mursalim, tarif yang akan dikenakan yakni Rp 40.000 untuk rute Cirebon-BIJB, Rp 50.000 untuk rute Kuningan-BIJB, Rp 60.000 untuk rute Cikarang-BIJB, dan Rp 75.000 untuk rute Bandung-BIJB. (mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed