Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 22 Jan 2020 16:01 WIB

Kereta Cepat dan Jerat Utang yang Membayangi China

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Ilustrasi/Foto: CNN Money
Jakarta -

Meski cuma berjarak 200 km dari Beijing, Wang Dianqi jarang kembali ke kampung halamannya di Zhangjiakou, Hebei, China. Dia harus menempuh waktu cukup lama melewati jalan-jalan pegunungan yang padat, atau bahkan bisa lebih lama jika menggunakan jaringan kereta api lama yang sudah dibangun lebih dari seabad lalu.

Tetapi baru-baru ini, sejak ada 'kereta pintar' berkecepatan tinggi pertama di China, Wang bisa pulang lebih cepat. Kereta pintar dengan kecepatan 350 km per jam tersebut kini membuatnya merasa begitu dekat dengan kampung halamannya.

"Jauh lebih nyaman. Penggunaan teknologi kami sendiri juga membuat kami sangat bangga." kata Wang, seperti dikutip dari South China Morning Post, Rabu (22/1/2020).

Kereta pintar tersebut baru saja diluncurkan menjelang Olimpiade Musim Dingin 2022 mendatang. Kereta cepat termutakhir ini memotong waktu perjalanan dari Beijing ke Zhangjiakou, yang akan menjadi tuan rumah beberapa pertandingan ski.

Perjalanan satu jam ditempuh dengan biaya 90 yuan (US$ 13) untuk sekali jalan. Meskipun ada kekhawatiran di awal bahwa jumlah penumpang akan rendah, ternyata hampir semua kursi terisi pada akhir pekan.

Saat Wang ke Zhangjiakou, banyak pelancong datang untuk bermain ski, hiburan baru yang tengah populer di kalangan kelas menengah Beijing.

Xinhua melaporkan, jalur kereta yang mulai beroperasi pada akhir Desember lalu tersebut sejauh ini menorehkan hasil positif. Rata-rata 85% kursi terisi selama dua minggu pertama operasi.

China diketahui telah memperluas sistem kereta api cepatnya selama dekade terakhir sepanjang 35.000 km. Dalam kurun waktu tersebut China menjadi negara dengan jalur kereta cepat terpanjang di dunia mengalahkan Jepang, Jerman, dan Prancis. Dengan kecepatan minimum 200 km per jam, jaringan kereta cepat di China telah menghubungkan semua kota besar di seantero negeri.

Pembiayaan pemerintah dalam pembangunan kereta cepat menjadi komponen kunci dari model pembangunan yang digunakan China. Pembangunan infrastruktur transportasi modern ini juga terbukti menstabilkan pertumbuhan.

Lebih dari US$ 1 triliun telah dihabiskan untuk pembangunan jalur kereta cepat di China sejak 2009. Stasiun-stasiun baru telah menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru seperti kluster perkotaan, hotel, menara perkantoran hingga blok perumahan.

Bagi banyak orang di China, sistem kereta api cepat yang luas telah menjadi kebanggaan nasional, termasuk Presiden Xi Jinping. Bahkan kini kereta peluru generasi berikutnya segera menggantikan sepenuhnya seri Hexie yang dibangun di bawah Presiden Hu Jintao.

Sejak jalur kereta cepat pertama diresmikan menjelang Olimpiade 2008 lalu, China telah membangun jaringan rel yang sangat luas. Beroperasinya kereta cepat telah mengubah cara orang-orang China bepergian dan meningkatkan konektivitas di seluruh daratan negara tersebut.

Dalam waktu kurang dari satu generasi, China telah sepenuhnya meningkatkan moda transportasi penumpang utamanya. Selama periode liburan Tahun Baru Imlek minggu ini, sistem kereta api diharapkan dapat mendukung sekitar 3 miliar perjalanan. Angka yang fantastis.

Kereta Cepat dan Jerat Utang yang Membayangi China

Selanjutnya
Halaman
1 2
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com