Jepang Lagi Ogah Garap Pengadaan Kereta MRT Jakarta

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 16:01 WIB
Proses pembangunan konstruksi mass rapid transit atau MRT fase II mulai memasuki tahap lalu lintas, archeological test pit dan pencabutan pohon.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Proyek pengadaan kereta atau rolling stock untuk MRT Jakarta Fase II sepi peminat. PT MRT Jakarta sudah membuka market sounding untuk para kontraktor Jepang, tapi hasilnya tak ada kontraktor yang berminat.

"Kita melakukan market sounding pada 26 Februari, ada 5 perusahaan yang mengikuti, dan ke-5 perusahaan itu merespons ketidaktertarikan untuk pengadaan 6 train set. Kenapa 6? Karena memang rencana dari Bundaran HI-Kota (fase II), kita hanya butuh tambahan 6 train set," ungkap Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar dalam diskusi virtual, Senin (19/10/2020).

Perlu diketahui, proyek MRT Jakarta ini didanai oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan mekanisme STEP Loan atau Tied Loan. Sehingga, kontraktor utama diwajibkan berasal dari Jepang.

Pada saat market sounding kedua, MRT Jakarta menawarkan proyek pengadaan 14 train set yang akan digunakan sampai proyek Fase II-B yakni Kota-Ancol Barat. Namun, para kontraktor Jepang juga masih tak berminat.

"Jadi digabung dengan Fase II-B. Ini dilakukan virtual dengan manufaktur dan trading company di Jepang. Kemudian manufaktur dan perusahaan dagang merespons negatif, karena semua pihak menyatakan tidak tertarik dan adanya gap dalam jadwal Fase II-A (Bundaran HI-Kota) dan Fase II-B. Karena memang ada gap antara Fase II-A dan II-B. Dan market Jepang sedang punya pekerjaan baik di Jepang, maupun di luar Jepang," terang William.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengungkapkan, para kontraktor/manufaktur pembuat kereta di Jepang sangat sibuk melayani pesanan dari berbagai negara yang jumlahnya ratusan unit. Menurutnya, para kontraktor kurang berminat jika membandingkan dengan pesanan Indonesia.

"Proyek Manila itu sendiri saja mereka pesan 300 kereta, dan juga ada beberapa proyek dan pemesanan dari Amerika Serikat (AS). Ya jadi pada semua proyek itu, dan itu baru sebagian yang saya sebutkan, itu membuat market Jepang is very occupied. And then, tambah lagi dibandingkan order-order kita. Jadi membuat ketidaktertarikan mereka terhadap proyek MRT ini," terang Silvia.

Kembali ke William, ia berharap para kontraktor Jepang bisa lebih serius dan meningkatkan minat para proyek MRT Jakarta ini. Apalagi, MRT Jakarta ini termasuk dalam proyek strategis nasional (PSN).

"Nah ini memang penting sekali kita berharap perhatian kontraktor-kontraktor Jepang lebih serius di Indonesia mengingat ini PSN," tutup William.

(fdl/fdl)