Wanti-wanti Pengusaha Proyek Infrastruktur Jangan sampai Mubazir

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 09 Apr 2021 18:01 WIB
PT Hutama Karya (Persero) mengoperasikan secara fungsional Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 3 (Jantho–Indrapuri) 16 km Rabu (10/3), Intip Yuk penampakannya.
Foto: Dok. PT Hutama Karya (Persero)
Jakarta -

Begitu banyak infrastruktur yang telah dibangun selama dua periode yang dijabat Presiden Joko Widodo (Jokowi). Proyek-proyek tersebut utamanya ditugaskan pemerintah kepada BUMN untuk membangunnya.

Mulai dari proyek jalan tol, pelabuhan, bandar udara (Bandara), jembatan, bendungan, hingga lumbung pangan

BUMN yang ditugaskan pun ketika memulai pembangunan menggaet vendor-vendor lokal. Namun, para vendor lokal menemui berbagai tantangan ketika mengerjakan proyek dari BUMN.

Di setiap proyek yang dilelang BUMN, para vendor lokal harus bersaing menawarkan jasa yang murah dengan kualitas terbaik. Sayangnya, meski sudah menekan harga dan memberikan kualitas terbaik, para vendor lokal masih harus menunggu lama untuk menerima pembayaran dari BUMN.

"Mereka (BUMN) kan juga mencari harga terendah. Mereka kan sudah banting harga juga ketika tender. Mereka juga pasti mepet, maka mereka mencari harga yang lebih murah, tapi berkualitas. Tapi ketika sudah murah, berkualitas, tetap lambat pembayarannya, tetap dicicil. Itu yang dikeluhkan teman-teman di daerah," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Andi Rukman N Karumpa kepada tim Blak-blakan detikcom, Kamis (8/4/2021).

Ketika proyek itu selesai, seringkali BUMN tak dapat langsung mengais keuntungan. Akibatnya, pembayaran kepada vendor lokal semakin molor. Oleh karena itu, menurut Andi pembangunan infrastruktur bisa menjadi mubazir apabila tak dimanfaatkan dengan baik.

"Ya mubazir, bikin jalan nggak dimanfaatkan karena tidak tumbuh sentra-sentra ekonomi di antara infrastruktur yang harganya triliunan itu," tegas Andi.

Maka dari itu, Andi mengatakan pentingnya membangun sentra-sentra ekonomi di sekitar infrastruktur yang sudah dibangun dan menghidupkan. Hasilnya, proyek yang telah dikerjakan pun tidak sia-sia, dan bisa memberikan multiplier effect bagi masyarakat.

"Saya tidak ingin mengatakan pemerintah tidak punya master plan yang bagus, tidak punya perencanaan yang baik. Karena maksud saya kita menikmati infrastruktur yang ada saat ini. Ini pencapaian yang luar biasa. Tinggal bagaimana jalan tol yang dibangun itu menjadi multiplier effect bagi masyarakat sekitarnya," terang dia.

Ke depannya, ia berharap proyek yang diberikan BUMN kepada vendor lokal harus dilengkapi dengan perencanaan matang, sehingga bisa memberikan manfaat, dan perusahaan pun memperoleh pemasukan untuk melunasi pembayaran ke vendor lokal.

"Kalau ini jalan, multiplier effect ke pengusaha lokal ini sangat baik. Tapi lagi-lagi kami berharap siapapun partner BUMN yang terlibat supaya memperhatikan pembayaran ke teman-teman pengusaha agar tidak terlambat bayarnya," tandasnya.

(vdl/zlf)