1.900 Km Tol Era Jokowi, Ini Potensi Ekonomi dan Pariwisata Ruas Binjai-Stabat

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 19 Apr 2022 18:57 WIB
Ruas Tol Binjai-Stabat 11,8 kilometer yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Ruas Tol Binjai-Stabat 11,8 kilometer yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Foto: Dok. PT Hutama Karya (Persero)
Jakarta -

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Arif Rahmansyah Marbun mengapresiasi pembangunan jalan tol di era Presiden Joko Widodo yang sudah mencapai 1.900 km. Termasuk diantaranya Tol Trans Sumatera.

Ia menilai hal itu merupakan capaian luar biasa karena mampu dikerjakan hanya dalam waktu 7 tahun.

"Ngebutnya pembangunan jalan tol di era Presiden Jokowi ini menunjukkan komitmen dan keseriusan pemerintah untuk pemerataan pembangunan. Jalan tol tak hanya dibangun di Jawa, tapi juga Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi," kata Arif, Selasa (19/4/2022).

Di Sumatera, kata Arif, pembangunan jalan tol semakin menunjukkan perkembangan positif. Termasuk yang pada tanggal 4 Februari 2022 lalu diresmikan Jokowi, yakni jalan tol Binjai - Langsa segmen Binjai - Stabat.

"Jalan tol segmen ini diperkirakan mampu menekan biaya logistik hingga 75%. Itu artinya dari sisi ekonomi, komoditi andalan kawasan Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo (Mebidangro) di bidang pertanian, perkebunan hingga perikanan bisa semakin bersaing harganya dengan produk impor," ujarnya.

Salah satu Ketua PBNU yang membidangi perekonomian ini mengungkapkan, Tol Binjai - Stabat sepanjang 11,8 km ini dari sisi kualitas juga sudah teruji. Hal itu bisa dilihat dari anugerah penghargaan kecelakaan nihil atas proses konstruksi tol Binjai - Stabat oleh Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Sumatera Utara kepada PT HK Infrastruktur (HKI) anak usaha PT Hutama Karya (Persero) yang memegang proyek Tol Binjai - Stabat.

Selain itu, kata dia, hasil riset tim ekonomi PT SMI juga menyebutkan pembangunan jalan tol Trans Sumatera memberikan dampak multiplier terhadap output dalam perekonomian setempat sebanyak 1,7 kali dari total pengeluaran pada masa konstruksi. Dampak output per tahun tersebut setara dengan 2,2% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Pulau Sumatera.

"Secara langsung, tentu ini merupakan dampak dari pembangunan jalan tol Trans Sumatera karena adanya penyerapan tenaga kerja setara 2,4% tenaga kerja di Pulau Sumatera," ungkapnya.

Dalam riset tersebut, lanjut Arif, juga menunjukkan bahwa pembangunan jalan tol Trans Sumatera ini juga mampu menjadi stimulus perekonomian Indonesia dan memberikan dampak positif yakni penciptaan nilai tambah, pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja di sektor konstruksi dengan pertumbuhan sebesar 54%, industri pengolahan sebesar 22%, pertambangan sebesar 8% dan perdagangan sebesar 6% beserta sektor lain.

Arif menjelaskan, sejak awal dilantik sebagai Presiden di periode pertama, Jokowi telah menetapkan konektivitas antarwilayah sebagai prioritas utama pembangunan. Tol Trans-Sumatera menjadi salah satu proyek ambisius yang diprediksi akan menjadi salah satu pemicu pemerataan ekonomi di pulau Sumatera. Bukan hanya itu, Presiden Jokowi juga menargetkan akan muncul episentrum wisata lokal baru seiring dengan pembangunan infrastruktur jalan tol di berbagai segmen kawasan.

"Seperti wilayah segitiga emas Sumatera yakni kawasan Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Karo atau dikenal dengan sebutan Mebidangro. Kawasan Metropolitan Medan atau Medan Raya ini telah ditahbiskan sebagai urat nadi perekonomian Indonesia bagian barat lewat peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 62 tahun 2011," terangnya.

Lanjut ke halaman berikutnya